facewoman
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Cerpen Lucu Terbaru

cerpen lucu
Kumpulan cerpen lucu terbaru dan lengkap bisa anda simak disini. koleksi cerpen lucu tentu sangat dinanti para remaja yang hobi membaca. apalagi cerita dengan tema lucu bisa membuat kita betah berlama lama membacanya. bagi anda yang sedang pusing dilanda berbagai masalah, hihi. mungkin membaca cerita lucu bertema humor bisa sedikit menenangkan pikiran anda. hehe - - -

cerpen dibawah ini dirangkum dari berbagai sumber tentunya. kami rangkum yang terlucu dan  cerpen dibawah ini dijamin gokil, lucu abis, unik, seru and bikin anda tertawa ngakak pastinya. bagi yang sudah tidak sabar, ini dia daftarnya untuk anda . . .


Kumpulan Cerpen Lucu Terbaru :


Pemeras Kecil

Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemui lelaki itu.

“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!”
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus!”
“???!!!”


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sama Sama Pelupa

Yudi adalah seorang suami yang sering ‘Jajan’ di komplek lokalisasi. Suatu malam ketika ia selesai kencan dengan isterinya sendiri, Yudi langsung menyerahkan uang lima puluh ribu kepada sang isteri dan buru-buru mengenakan celana panjang.
Saat sang isteri pergi ke kamar mandi, Yudi baru sadar bahwa kebiasaan itu hanya berlaku untuk seorang pelacur yang melayaninya, bukan untuk sang isteri.
“Celaka ! Pasti isteriku akan tahu kalau aku sering jajan di tempat begituan?!” gumam Yudi dengan cemas.
Ia tak punya alasan untuk menarik kembali uangnya itu.
Tapi ketika sang isteri keluar dari kamar mandi, ternyata ia langsung di dekati oleh sang isteri yang berwajah berang.
Sang isteripun membentaknya: “Hei, kurang nich! Biasanya seratus ribu, kenapa kau kasih cuma lima puluh
ribu?!”
Harto : “Biasanya… ?!”
“Oh, hmm, eeh… anu… maksudku…” sang isteripun gugup dan pucat sekali.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kalo Kerja Pake Ini
Kerja pake ini Di suatu pinggiran kota, hiduplah seorang nyonya yang cukup (sedikit mampu) dengan pembantunya yang selalu buat masalah.
Suatu hari, pembantu itu memecahkan piring untuk kesekian kalinya… akhirnya nyonya itu memanggil pembantunya sambil memaki berkata,” Minah….kamu ini gimana…dasar org goblok, makanya kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk lututnya) tapi pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red)…kamu saya pecat..”akhirnya pembantunya pergi…
5 tahun kemudian, di suatu Supermarket..si Nyonya ketemu dengan pembantunya yang dulu tapi dengan pakaian yang mewah dengan banyak perhiasan emas…
Si-nyonya memanggil,” Minah, kok kamu sekarang berubah..menjadi kaya…kok bisa????
Si-pembantunya menjawab,” makanya Bu, kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red) tapi pake ini donk (sambil nunjuk dii antara pahanya)….”?#$#@”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerpen Lucu
Tentunya kita pernah naik bis dan bertemu dengan pedagang yang aneh-aneh. Masih inget gak waktu pertama kali dapat “hadiah” sebuah barang yang tiba-tiba dibagikan orang di pangkuan kita waktu duduk di bis?. Mungkin pertama kali heran tetapi akhirnya jadi sedikit sebal karena kita jadi waspada karena dititipi barang dagangan dengan paksa sehingga ga enak klo mo tidur. Ada juga sih kita yang ceroboh menjatuhkan hingga ke kolong bangku, wis pokoke sangat merepotkan. Tapi klo aku sih daripada sebal mending menikmati momen sang penjual ngoceh berpromosi ria soal barang dagangannya. Terkadang ada juga yang kreatif, misalnya penjual pensil di bis beberapa tahun yang lalu.

Sambil membagi dagangannya dia nyerocos…”Silahkan dipilih warnanya macem2, hanya dengan uang lima ribu bisa dapet sepuluh pensil istimewa, warnanya pun gaul, klo suka dangdut tinggal pake yang kelap-kelip, ditanggung gak habis dalam sepuluh tahun. Pensil ini punya kemampuan bisa memendek dan kayunya empuk untuk diraut atau enak juga buat digigit-gigit karena bahannya tidak beracun dan ramah lingkungan. Selain buat nulis pensil ini punya fungsi istimewa yaitu untuk relaksasi. Tinggal dikorek-korek ke kuping pasti hidup jadi lebih indah, juga bisa buat alat pertahanan diri tinggal dicolokin ke mata lawan, atau klo nekat bisa juga digunakan sebagai tusuk gigi, tapi klo yang terakhir itu kurang disarankan…..,” Nah itu emang penjual pensil yang agak eror tapi minimal punya selling skill. Intinya sih klo mo dagang jangan sampai menjatuhkan harga diri, misalnya dengan cara melas… “ Om ayo dong dibeli, saya belum makan tiga hari.., kasihanilah, buat makan…..” hihihi cara yang ga mbois blas… Begitupun cara-cara yang gak etis misalnya ngancam-ngancam, maksa-maksa atau berbohong tentang barangnya.

Sebagai konsumen kita juga ga boleh bikin pedagang sakit hati. Jadi ingat Hilman dalam novelnya Lupus Kecil, ceritanya Lupus lagi liat penjual siput laut atau keong, trus dia nanya-nanya..”Mang siputnya bisa dimakan ga?”, “ya gak bisa dek, ini kan siput laut..”..”trus bisa gigit Ga?” “ Gak dong pokoke aman kok buat mainan. Adek mo beli?” tanya pedagangnya antusias. Trus si Lupus jawab, “ Aneh, klo gak bisa dimakan dan ga bisa gigit kok dijual? Mending jualan semut Rangrang aja, walo ga bisa dimakan tapi kan bisa gigit…..” Nah itu baru sekelumit cerita tentang pedagang dan konsumen. Intinya sih sebagai konsumen kita juga ga boleh mengadul-adul barang dagangan orang tapi gak beli dengan legitimasi pembeli adalah raja, padahal yang namanya pembeli adalah yang bener2 melakukan transaksi.

Tapi juga pedagang emang suka menyebalkan tapi kok kita butuh ya. Jadi seperti hubungan dilematis, benci tapi rindu… klo didepan pedagang kita jadi sok mencibir… “kok mahal banget sih bang, barangnya ga bagus nih dsb…”..tetapi begitu nyampe rumah kita cekikikan seneng karena dapet barang bagus dan murah ampe dipamerin ma temen2 sekantor. Budaya yang aneh dan mungkin bagi kita itu white lie, padahal tetep aja ga etis seperti gak etisnya pedagang yang suka bohong..”waduh klo segitu sih buat kulakannya aja ga nutup Neng..” atau “pokoknya klo ada yang lebih murah ta belinya sendiri deh..dsb..”. Hmmm… ternyata benar juga klo gak ati2 di Pasar bisa jadi tempat kita jual beli dosa..

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalau Sudah Besar Mau Jadi Apa Nak..?



Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 6 tahun,



“Kamu nanti kalau sudah besar mau jadi apa nak?”

Dengan semangatnya sang anak menjawab, “Aku mau jadi polwan bu.”

Dengan tegas ibunya menjawab, “Tidak boleh!”

Si anak merasa heran lalu mengganti jawabannya, “Kalau tidak boleh aku mau jadi peragawati saja bu.”

Kini si ibu semakin marah, “Apa-apaan kamu, masa mau jadi peragawati. Tidak boleh!”

Si anak mulai merasa takut, lalu menjawab dengan gemetar, “Kenapa semua tidak boleh bu, apa aku cuma boleh jadi ibu rumah tangga saja?”

Si ibu sekarang tidak marah lagi. Namun ia menangis dan memeluk anaknya dan berkata, “Karena kamu laki-laki, Bambang!!”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Drakula Paling Sadis



Ada 3 drakula, mereka bikin kompetisi siapa yang paling kejam dan sadis.



Drakula yang paling muda dapet kesempetan duluan. Tiba-tiba dia lari secepat kilat, terus 2 menit udah balik lagi. Mukanya penuh lumuran darah, seringainya sereem.

Terus dia ngomong : “Lu pade liat desa di seberang bukit itu ?” Yang dua ngangguk, “Iya, liat.”Desa itu .. habiissss !” Yang paling tua panas juga. Dia juga pergi sekelebat, terus 1 menit udah balik, mukanya juga penuh sama cucuran darah.

“Lu liat kota yang itu?”, katanya sambil mukanya nunjukin kalo dia bangga bener.

“Iya, liat”, yang dua ngangguk juga. “Kota itu juga habiiissssss !”, kata yang paling tua sambil ketawa serem,”Hua ha ha hah !”.

Drakula yang satunya lagi tambah panas, dia juga pengen show off. Akhirnya dia juga lari sekelebat. Temennya yang dua terperanjat, soalnya belum sampe setengah menit dianya udah balik, dengan penuh cucuran darah di mukanya dan matanya. Temennya yang dua membatin, “Gila ni drakula, sangar amat, ternyata dia yang paling jago”.

Sambil ngos-ngosan dia teriak, “Lu pade liat nggak tiang listrik di pas belokan sana?” “Liat! Liat!”, kata yang laen.

“Sialan, gua kagak liat !!”. kata si drakula. 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ingin Keluar

Ada seorang anak laki-laki yang berusia 6 tahun dan dia sedang sedit sakit kepala. Dia bersama ibunya sedang mengikuti acara gereja. Beberapa menit kemudian anak laki-laki tersebut merasa mual dan ingin pergi ke luar.

“Ibu bisakah kita pulang sekarang.” Tanya anak itu?
“Sabar ya sayang, sebentar lagi kita pulang.” Jawab ibunya.
“Tapi aku tidak tahan lagi, aku merasa mual dan ingin muntah” Balas anak laki-laki itu kembali.
“Ya udah, kamu pergi ke samping Gereja di sana ada kamar mandi. Kamu boleh buang di sana.” Balas Ibunya.

Tiga menit kemudian anak laki-laki itu kembali datang dan duduk di samping ibunya. 

“Apakah kamu jadi muntah?” Tanya ibunya dengan penasaran.
“Ia” Balas anaknya.
“Tapi bagaimana kamu bisa secepat itu balik dari kamar mandi. Kamar mandinya akan agak jauh.” Balas  ibunya.
“Aku tidak perlu ke kamar mandi Bu,” Balas anaknya “Di samping pintu depan Gerja mereka punya kotak.Di kotak itu tertulis ‘Untuk Orang Sakit’

----------------------------------------------------------------------------------------


SEDANG BUAT ADIK

Pada suatu malam seorang anak memergoki ayah dan ibunya sedang berhubungan intim. Lalu si anak bertanya, ” papa sedang apa sama mama? “.  Sang papa menjawab dengan tenangnya, ” Sedang buat adik untuk kamu ” tandas papanya.

Keesokan harinya, si papa mencari anaknya untuk di suruh mandi, tetapi sang papa terkejut bukan main saat melihat si anak sedang memasukkan alat kelaminnya ke dalam knalpot motor. Lalu si ayah bertanya, ” nak, apa yang kamu lakukan?”, dengan santai si anak menjawab, ” Sedang buat motor untuk ayah”…. ?????????




Nah, bagaimana Kumpulan cerpen lucu dan gokil diatas. cukup menarik bukan ? cerita lucu kocak dan humor yang bisa membuat kita tertawa tentu dapat menjadi refresing sejenak. sampai disini dulu mengenai contoh cerpennya, ketemu lagi next time. terima kasih . imedz

Kumpulan Cerpen Cinta Terbaru | Cerpen Cinta Terbaik

cerpen cinta
Kumpulan Cerpen Cinta terbaru tentu sangat dinantikan para pembaca setia cerita pendek, nah dibawah ini adalah daftar cerpen bertma cinta yang layak anda baca. tentu menarik bukan melihat kisah cinta remaja yang romantis dituangkan dalam sebuah karya seni berbentuk cerpen seperti ini.

langsung saja kini saatnya cerpen bertema cinta kami sajikan untuk anda para muda-mudi. beberpa kata dibawah ini bisa anda gunakan untuk motivasi dalam mengejar cinta sejati anda. nah langsung saja ini dia daftarnya . . .

Cerpen Cinta Terbaru :


PEREMPUAN YANG BERTUTUR PADAKU

Jari-jari lentikmu menggamit sebatang rokok lagi. Mungkin batang yang ketujuh malam ini. Asap mengepul pekat, lekat dalam lamunanmu. Kau jeda sejenak sebelum meneruskan cerita itu lagi. Aku mulai mual karena asap-asap itu menerobos masuk ke paru-paru. Aku bukan perokok tapi aku bertahan, demi kamu. Bahkan, saat derai gerimis mulai menghajar seru.

“Bagaimana itu berawal?” Tanyaku. “Ha.. ha..” kau mulai dengan tawamu yang berderai seperti derai gerimis dan kita tak pernah peduli dengan gerimis ini. Walau basah menjamah baju-baju ini tapi kita tetap nikmati percakapan ini. Dingin seperti meghilang karena kehangatan yang hadir berhasil mengusirnya. Pohon mangga yang melingkupi tempat duduk yang basah ini, mengayunkan rantingnya yang penuh dedaunan untuk memercikan air ke tubuh kita. Sedang kita tenggelam dalam ceritamu. Dengan duduk di atas kursi kayu panjang tanpa meja, tak ada teman selain kita kecuali dua cangkir sisa Capuccino yang tertutup, kau taruh sembarangan di bawah kursi yang kita duduki. “Aku sudah merokok sejak SMP”, kau mulai memungut kembali kepingan kaleidoskop hidupmu. “Sejak SMP kelas dua tepatnya. Senior-seniorku di kampung yang mengajariku bagaimana menikmati rokok. So, jangan selalu berfikir kampung itu alim, pergaulannya tak seperti di kota. Aku bisa pastikan, tak jauh beda!” Kau mendesah lalu menghisap, membiarkan asap rokokmu membentuk lingkaran-lingkaran di tengah dingin dan derai gerimis. “Itu gunanya teve!” Kau seperti menarik kesimpulan.

Lalu kau melanjutkan. “Aku tumbuh di lingkungan yang memungkinkanku menjadi gadis yang periang, gampang percaya dan mudah bergaul. Itu mungkin yang jadi masalah utama bagiku”, kau jentikkan jari telunjukmu ke rokokmu, debu rokok berguguran di sampingmu. “Masih lekat dalam ingatanku, tiap ada kumpulan muda-mudi di kampung, disitulah dimulainya transfer pengalaman dari senior ke yunior. Biasanya, selalu ada pertemuan rutin muda-mudi. Selepas arisan atau rapat, kami ngumpul. Awalnya, yang perempuan dengan perempuan dan yang laki-laki dengan laki-laki. Lalu kami bentuk semacam genk, hanya sedikit yang tidak ikut. Kami selalu mengolok-olok yang tidak ikut sebagai orang kolot! Kuper! Kampungan! Ha…ha.. Padahal kami semua orang kampung, ya?!” Tawamu kembali berderai seperti menyambut derai gerimis yang memayungi wajahmu. Bunting-bunting air meleleh pelan di pipimu menuju ke dagu. Sejuk. Kupikir saat itu tak ada yang lebih menyejukkan daripada pipimu.

“Tiap malam minggu genk kami ngumpul. Awalnya, kami yang yunior, yang masih SMP hanya coba-coba merokok. Sebatang-dua batang. Makin lama kami nyoba ikut menegak minuman, satu-dua rolling. Tapi jangan salah, kami tak pernah nyoba nge-drugs! Hanya rokok dan minum. Soal minuman, kami lebih suka ciu atau topi miring. Pertama nyoba mau muntah. Baunya menyengat, hidungku serasa ditusuk-tusuk jarum. Tapi keinginan untuk jadi anggota genk, biar gak diolok-olok, membuatku bertahan. Saat minuman mulai menerobos tenggorokan, tenggorokan ini serasa terbakar. Rasanya pening, saat itu dunia seolah gelap dan berputar-putar seperti komedi putar yang di tarik kencang”, kau berjeda sejenak seraya menata rambutmu yang terkulai basah yang melekat pada jaket coklat matang-mu. Kau terlihat alami dengan rambut yang basah. Ah.. mirip Dian Sastro? Bukan! E.. Luna Maya? Tidak juga, karena matamu tak sebiru miliknya. Nah.. seperti bidadari selepas mandi!

Lau, kau menatap mataku dalam, seperti ingin mencari sesuatu. Dan sepertinya kau tak menemukan apa-apa. Hanya biji matamu yang besar sedikit mengerling. Entah apa maksudnya. Membaca matamu memang pekerjaan paling susah. Seperti waktu aku sekolah dulu yang selalu ketakutan bila bertemu soal matematika, begitu pula saat aku berusaha membaca matamu. Takut. Entah karena apa. Ataukah takut jangan-jangan aku bisa mengetahui yang sebenarnya di balik semua tatapanmu?

Kau lanjutkan lagi ceritamu sedang aku tetap diam. “Senior-senior itu kupikir, memang kurang ajar! Selepas kami sering ikut, mereka mulai minta uang pada kami. Kadang, mereka malah tak ikutan patungan sama sekali untuk membeli minuman. Cuiihhh! Dasar perempuan-perempuan murahan!” Kau lempar muka ke samping. “Mereka juga mengajari kami bagaimana harus cari pacar yang bisa diporoti! Hi..hi..hi… Sekarang aku sadar. Aku juga murahan!” Kau seperti mengutuk lalu menertawakan diri sendiri. Kamu tergelak, mengadah, mempertontonkan lehermu yang berjenjang dan sesuatu mendorong-dorong dari dalam dadaku. Tapi aku tetap diam.

“Tak sampai setahun, kami para yunior, telah sama mahirnya dengan para senior. Kami juga mulai sembarangan, kadang kami ngajak genk laki-laki untuk bergabung bersama kami. Bayangkan apa yang terjadi. Kacau! Dan kamu tahu? Orang tua kami seperti mendiamkan. Keterlaluan!” Kau geleng-gelengkan kepalamu seraya tersenyum, seperti tak percaya. Lalu kau buang putung rokok yang tersisa, menarik satu tanganku lalu menggosok-gosoknya dengan kedua tanganmu. Aku biarkan saja. “Aku mulai merasa dingin. Biar gak dingin, ya?!” Katamu. Aku cuma mengangguk, buyar senyum tak tertahan dari wajahku.

Kau masih memainkan jari-jariku, kadang menempelkannya di pipimu, di bibirmu dan aku masih pegang kendali alam bawah sadarku… “Dan, entah kapan kejadiannya. Mungkin saat itu aku telah SMA. Aku kehilangan keperawananku...”, suaramu kali ini terdengar letih, berat. “Sesungguhnya, swear!” Kau acungkan dua telunjukmu untuk meyakinkanku. “Aku termasuk orang yang conservative bila bicara soal seks.” (Menurutku, pilihan katamu kurang tepat!) “Dan aku bangga mengakui hal itu. Aku orang yang menjunjung tinggi keperawanan, tapi mungkin memang nasib. Karena mabuk berat bersama teman, aku tak tahu kapan dan siapa yang merenggut mahkotaku, bahkan di mana?!” Kau gelengkan kepalamu lagi sambil tersenyum kecut. Gigi-gigi kokohmu menggigit bibirmu yang merah. “Dan.. Aku memang menyesal. Menyesaaal sekali! Dunia serasa berakhir saat itu juga”, katamu lirih. “Namun, berawal dari itu juga, aku mulai gila!” Kali ini kau seperti berteriak. “Aku jadi lebih berani bergaul dengan teman laki-laki. Terlanjur basah! Pikirku”, kau menoleh dan menatap kosong ke samping, seperti menebar lamunan di hadapanku. Menyesali perjalanan hidupmu yang melelahkan yang telah lalu.

Kau lepaskan tanganku dari kedua tanganmu lalu menyalakan rokok kembali. Karena basah, rokokmu jadi sering mati dan kau pun kesulitan menyalakannya kembali. Aku mencoba membantu menyulutnya. “Terima kasih. Mulai saat itu, aku pintar cari lelaki. Dengan modal tampang yang cantik ini!” Kau terlihat begitu percaya diri saat berucap seperti itu. Memang benar, kamu cantik. Amat cantik bahkan, batinku. “Kadang, bahkan aku bisa punya tiga pacar sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Dan, tak ada satu pun dari mereka yang tak mau berkorban demi aku. Mereka semua orang yang kaya atau paling tidak bisa mendapatkan uang yang aku butuhkan. Maklum, biaya hidup makin mahal jadi aku tak bisa terus gantungkan hidupku hanya dari orang tua. Apalagi aku anak kost karena jarak rumah dan sekolahku cukup jauh”, kau berjeda sejenak seperti berfikir. “Huh… Jauh dari orang tua membikin hobi keluar malamku makin lama menjadi-jadi. Selalu ada saja alasan untuk itu. Dan aku jadi sering bolos sekolah. Namun, dengan keadaan seperti itu, malah memudahkanku untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku bisa beli HP yang lagi nge-trend, bisa ngisi pulsa tanpa keluar uang sepeser pun. Pakaian. Bisa beli make-up untuk jaga penampilan. Semua dari pacar-pacarku. Tapi, memang butuh keahlian tersendiri untuk bisa berbagi waktu untuk mereka. Aku mencoba untuk tak pernah serius dengan mereka dan ketika salah satu dari mereka mengetahui siapa aku, berapa pacarku, aku langsung putus hubungan dengan mereka semua. Ganti nomor baru, cari korban baru. Dengan potensiku dan kebodohan mereka, hal itu semudah membalikkan telapak tanganku”, kau balikkan satu telapak tanganmu, seolah menunjukkan betapa mudahnya kau melakukan itu.

“Ha..ha.. Kadang aku berfikir kalian itu mirip kerbau. Jinak! Kalian terlalu lemah berhadapan dengan kecantikan. Kami hanya perlu bersikap lemah lembut, sok alim dan kalian pasti langsung percaya pada kami”, kau seperti sedang mengolok-olokku. “Ehm.. Tapi anehnya sejak pertama kita ketemu, aku percaya kamu tidak seperti itu”, kau kembali menatapku lebih dalam, mencoba mencari jawaban. Aku coba alihkan tatapanku. Kau matikan rokokmu seraya berkata, “Ini rokok terakhirku. Aku berhenti demi kamu.” Lalu kau angkat kedua tanganmu dan menaruhnya di kedua pipiku. Hangat serta-merta menjalari sebujur tubuhku, dada ini kembali bergelora tapi aku tetap diam. Kami kembali bertatapan. Kali ini aku berjuang keras mengatasi ketakutanku. Cukup lama. Aku jadi memahami kenapa para lelaki itu begitu mudah kau jinakkan! Kamu benar-benar memahami keinginan laki-laki, bahkan saat masih mereka simpan jauh dalam hati. Mungkin beberapa menit telah lewat dan kita diam dengan posisi seperti itu, tapi kau tak menatapku lagi melainkan tertekuk. Bulir air gerimis meleleh melalui hidungmu yang menunduk. Huiihhh...!!! Aku lagi-lagi jadi memaklumi kenapa para lelaki jadi begitu lemah menghadapi kecantikan. Dan menurutku, kau adalah kecantikan itu sendiri.

Kau lepaskan kedua tanganmu dari wajahku selepas mengusap air yang masih membasahi wajahku. “Sekarang sudah hangat kan?” Kau bertanya sembari sunggingkan senyum di pojok bibirmu. Aku seolah ingin, saat itu juga, waktu berhenti untuk memberiku momen lebih untuk menikmatinya. Dan, aku hanya mampu mengangguk. “Aku lanjutkan ceritaku lagi, ya?” Kau seperti minta ijin padaku. “Namun dibalik petualanganku itu, satu kali, aku pernah benar-benar jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta! Cinta yang akhirnya membawaku sampai di sini. Dia adalah guru baru di sekolahku. Tak ganteng amat tapi dia berbeda dengan laki-laki yang pernah aku kenal. Mungkin karena dia terlihat lebih dewasa daripada para lelaki bodoh itu. Tiap mengajar, dia seperti tengah menghipnotis kami. Cara bicaranya, cara jalannya, caranya menatap. Semuanya. Seolah membuatku merasa orang yang paling berdosa. Sepertinya dia lelaki alim. Seperti kamu, ya.. hi..hi..”, tawamu berderai lagi.

“Dan ternyata, cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Dia mencintaiku juga. Namun, tak lama selekasnya, dia pindah kerja ke kota ini. Harapanku terhadapnya tetap menggunung karena dia berjanji menikahiku, menerimaku apa adanya. Ha..ha.. Aku malu kalau mengingat-ingat peristiwa itu. Seperti cerita-cerita cinta di teenlit ya?!” Kau berjeda sejenak, menghela nafas. “Dia bahkan berjanji takkan menyentuhku, sebelum aku menikah dengannya. Tak butuh waktu lama buatku untuk membuat keputusan ikut dengannya ke kota ini. Bahkan tanpa ijin dari orang tuaku karena cinta telah membutakanku. Akhirnya, sampailah aku ke kota ini. Kota yang memenjarakanku dalam kegelapan, sebelum aku bertemu denganmu, tentunya…”, kau menatapku lagi, tersenyum manja. Lalu, kau lanjutkan ceritamu. “Tak lama selepas aku ikut dengannya, kebusukan perlahan kutemukan pada lelaki itu. Dia memang tak menyentuhku tapi dia sedikit mulai kasar terhadapku. Lalu lama-kelamaan, dia bilang aku adalah beban baginya. Dan, mimpi buruk itu akhirnya datang juga. Dia rampas hartaku yang tersisa lalu menjualku ke teman tidurnya, seorang mucikari. Ha..ha.. Dia seorang gay ternyata! Cuihh… Disitulah hidupku yang gelap dimulai. Aku bahkan tak tahu segelap apa hidupku itu. Masih adakah nyala yang bisa menerangi jalanku?” Kau nyaris menangis lalu terdiam, menatapku dengan rasa sayang yang paling mungkin terlukiskan. “Dan.. Aku harap nyala itu adalah kamu..”, kau hentikan ceritamu bersamaan dengan berhentinya gerimis yang sejak tadi membasahi kami. Air bunting menetes pelan dari kedua pipimu. Aku berusaha menenangkanmu. Kali ini aku memelukmu, menyentuh lembut keningmu dengan bibirku. Erat dan hangat. Kau mulai tenang dan senyum membuyar dari wajahmu.

Lalu, kami berjalan bersama menuju rumah, menerobos gelap menuju terang rumah. Mungkinkah kau adalah pilihan tepat buatku? Ataukah Tuhan memilihku untuk menerangi jalan perempuan malang ini. Tapi … aku jadi teringat pesan ibu dan prinsip-prinsip dalam hidupku. Ibu, satu-satunya orang yang selalu kudengarkan tiap nasehatnya. “Hati-hati di kota. Kerja yang baik! Kalau cari istri hati-hati! Jangan sekedar cari teman tidur tapi carilah ibu bagi anak-anak kamu…”, kata ibu sebelum melepasku ke kota ini. Ya Tuhan! Maafkan aku. Bukankah Engkau Maha Pengampun dan aku juga harus punya tempat untuk orang-orang yang telah menyesali perilakunya dulu, seperti perempuan ini? Dan kupikir, tak ada salahnya kalau aku berharap dia akan jadi bagian dari hidupku. Ibu atau siapa pun tak perlu tahu rekam jejak hidupmu.

Kau memang luar biasa. Kau seperti guru yang mengajari muridnya tentang pelajaran pertama. Malam ini, aku benar-benar bisa menikmati tiap lekuk keindahanmu. Pengalaman pertama dalam hidupku dan kulalui itu dengan penuh gairah. Dan, kau akhirnya tertidur pulas tapi tidak dengan aku. Gelap makin pekat selimuti malam ini. Bintang-bintang tetap enggan mendandani langit walau derai gerimis menghilang dari langit hitam. Bulan pun seperti malu, dia bersembunyi sejak sore tadi. Kamar ini sepi, hanya ada aku dan kamu. Tapi mataku tetap terjaga. Aku masih berfikir keras tentang hidupku dan hidupmu. Haruskah aku melanjutkan kisah ini? Menjadikan kau ibu dari anak-anakku? Aku memang terlanjur mengasihimu. Tapi kata-kata ibu, prinsip-prinsip hidupku, terus berputar-putar kembali di otakku. Cukup lama, akhirnya, aku putuskan untuk menulis surat ini. Dan, aku pun tak tahu apakah aku akan menyesali keputusanku ini.

Maaf, bukan berarti aku menghianatimu bukan pula berarti aku tak mencintaimu. Tidak! Jangan salah! Aku sangat mencintaimu, dengan sepenuh hatiku bahkan. Tapi hidup kita memang berbeda. Sama sekali berbeda. Kau bukan seseorang yang kucari selama ini. Aku menyesal telah menikmati malam ini bersamamu, aku berdosa!! Tapi itu akan jadi kenangan terindah dalam hidupku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tahu kau akan marah dan mengutukku. Tapi tak ada pilihan yang lebih baik buatku. Dan, soal uang yang tak banyak ini, bukan berarti aku tak menghargaimu. Aku ingin kau gunakan uang ini untuk pulang kembali kepada orang tuamu. Mereka pasti akan menerimamu dengan baik. Hiduplah tenang disana, suatu saat nanti, pasti seseorang yang tepat akan membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu. Percayalah! Tuhan takkan pernah menyia-nyiakan penyesalanmu. Sekian… Cintamu, Basiludin.



TANGISANKU BUKAN UNTUKNYA

Saat itu Mira sibuk memilih buku yang akan berguna baginya sebagai siswi baru . Selain itu , tak ketinggalan ia membeli komik “conan” favoritnya . Dan komik yang ia cari sekarang itu komik edisi 56 , wah..itu kan udah lama. Mira ingin membelinya karena ia kelewatan satu volume itu , kalau yg lain sih dia udah ada .
Kebetulan saat itu komik “conan” edisi 56 tinggal satu . Dan beruntung sekali ia yang menemukannya. “Wah , jodoh banget . Komik conan yang kusayang. Kau akan segera menjadi milikku hohoho” . Baru saja tangan mira menyentuh ujung covernya , tangan seseorang telah dahulu mengambilnya .
“Eits , itu punya gue” Mira berusaha menambil komik dari tangan cowok tinggi , dan lumayan tampan itu . Cowok itu memelototinya . “Siapa duluan , dia dapat” Kata si cowok sambil pergi. Sesaat mira melongo,lalu...
“Gila!cowok rese , gila gila gila!!??” Mira berteriak memaki cowok itu . Sedangkan yang dimaki telah ke kasir dan mencibir ke arahnya. Mira masih marah , sesaat semua mata tertuju pada mira yang berteriak , muka mira merah karena malu dan emosi . Ia segera membungkuk dan minta maaf .


Esokpaginya… Tania menelfon mira yang masih belum datang ke sekolah pada hari pertama ospek.
“Mira!! Elo dimana?? Ini hari pertama ospek , mir . Gak masuk lo?”
Pertanyaan bertubi tubi datang dari sobat nya itu.
“Iyee.. gue lagi di jalan nih! Berisik amat… ntar deh gue ceritain kenapa gue terlambat. Udah ya,, bye”. Kata mira sambil memutuskan panggilannya.

Sesampainya di sekolah , Mira melihat kesana sini . “Waduh..gimana nih? Udah sepi lagi , pasti udah pada ngumpul nih, gawat!!”Mira memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangannya. Setelah lama mira merutuki dirinya , ia menyadari ada orang berdiri di belakangnya. Reflex mira berbalik . Dan sepertinya ia berhadapan dengan panitia ospek. “Ehm..siswi baru , hari pertama ospek dan ter-lam-bat!kemana aja lo?” Kata cewek itu dengan judes. “ oh, maaf kak saya terlambat..” Kata mira membungkukkan sedikit badannya.”Gue juga tau , bego! Yg gue Tanya kemana aja lo? Jam segini baru nyampe”. Mira hanya diam dan menunduk mendengar ocehan cewek judes di depannya. Cewek judes itu melihat mira dari atas sampai bawah . Tampaknya ia juga sedikit iri melihat mira jauh lebih cantik darinya. Tapi, ia tak mau kelihatan norak dengan memuji mira. Ia malah menghukum mira dengan alasan keterlambatannya.
“Dasar! Lo pake nih. Dan berdiri di sana hingga istirahat nanti!!”Cewek judes itu memberi mira papan yang digantungkan di leher dengan tulisan (GUE TELAT KARENA BEGO’) . Mira memakainya ditengah lapangan dengan benar benar malu . Ia terus terusan mengumpat si cewe judes itu dalam hatinya.

Saat istirahat tiba , mira benar benar merasa cemas . Gimana kalo orang orang keluar dan liat gue kayak gini. Gimana ni nasib gue?? Batin mira terus berceloteh.
Huuft.. benar kan, di sana tampak segerombolan cowok yang baru keluar . Tunggu!! Sepertinya itu cowok pernah gue liat,tapi….dimana ya? Ah ya.. dia si pencuri komik!! Aduh kenapa dia disini lagi…
Mira menunduk dalam2 supaya wajahnya tidak kelihatan.
“Mira!!” teriak Tania dari jauh.Mata mira langsung besar dan senang melihat sahabatnya datang.Juga malu karena cowo cowo itu melihat ke arah nya.
“Tania, akhirnya lo datang.tolongin gue donk. Malu banget nih!!”Kata Mira meringis.
“Iya, makanya gue ke sini . Yuk ah ke kantin.”Tania menggandeng tangan mira. Tapi, tiba-tiba mira berhenti dan ,melihat kebelakang, otomatis Tania juga ikutan donk..
“oh ya tan, lo tau nggak siapa dia?” Kata mira sambil menunjuk cowok pencuri komik itu. Seketika Tania bingung, lalu senyum berkembang dibibirnya.
”ooh, yang itu. Itu kak arya, dia tu ya udah ganteng,ramah lagi..Banyak tuh cewek yang naksir dia,ya termasuk kakak yang kata lo judes itu. Apa lagi ya, dia itu ketua osis”. Kata Tania yang matanya tidak beralih dari arya sedikitpun. Ramah?..Apanya.dasar pencuri komik!Perusak kebahagiaan orang aja tuh cowok!ha?Ketua osis.Artinya,gue bakalan lama berhadapan dengan dia!! Ringis mira dalam hati.Saat mira menatap cowok itu lagi, cowok itu juga menatapnya,sehingga pandangan mereka bertemu. Cowok itu tersenyum manis padanya, mira jadi heran. Namun, ia juga melempar senyum paksaan pada cowok itu.Lalu pergi bersama Tania ke kantin.

Hari ke 2 di sekolah ..
Lagi lagi mira terlambat datang ke sekolah. Saat di depan gerbang , tubuh mira seakan lemas , karena melihat cewe judes itu berdiri di sana.
“Wah wah…emang hobi telat lo ya?udah jam berapa nih..bukannya belajar dari pengalaman ..”Kata cewek judes kemaren dengan nada sewot.
Yaelah..ni cewek siswi sekolahan apa satpam sih?disini mulu prasaan.(batin mira)
saat cewek itu akan berkata lagi , terdengar dari kejauhan ketua osis memanggilnya.Huft! benar benar penyelamat.
Saat istirahat, ketua osis mengumumkan bahwa tahun ini pelaksanaan ospek akan dilaksanakan di alam terbuka.mereka akan kemping.Dan tujuannya adalah puncak.Wah..mira senang banget ni, secara udah lama ia tidak pernah main lagi ke puncak. Berapa lama ya?Mungkin 4 tahunan deh.

Esokpaginya.. “Pa..cepetan donk!ntar aku telat lagi kayak kemaren, ntar aku ketinggalan bus,trus dimaki maki sama cewek judes kayak kemaren lagi.Itu kan menyangkut harga diri seseorang pa.Papa tau kan?Ini menyangkut bangsa kita juga pa.bangsa Indonesia tercinta , tumpah dar…” Seketika mulut mira dibungkam mamanya yang duduk bersamanya dibelakang kursi kemudi.
”Mira, bawel ah!papa lagi nyetir tuh!”Kata mama, sambil melepas mulut mira yang cemberut.

Sesampai di sekolah, Mira celingukan mencari ke sana ke sini , tak tampak satu orang pun siswa siswi seangkatan dan bus yang akan dinaikinya.Saat mira melihat cewek judes itu lagi berdiri melamun, ia menghampirinya.
“Maaf kak, bus sama anak anak lain mana ya kak?”Tanya mira hati hati. “Bus bus!udah pergi dari tadi jugak!!dasar lelet”. Bukannya jawab ramah, mira malah dapat sarapan pagi lagi . “Eh, gena ada apa nih?” Seorang cowok menghampiri mereka. “Eh, arya. Ini lo adek ini terlambat. Kan bus nya udah pergi dari tadi ya..”Kata cewek yang bernama gena itu centil. Dasar bermuka dua(batin mira).Sejenak , arya memperhatikan mira , lalu tersenyum. “ Ooh, baiklah. Kamu gabung sama kita aja ya”Ajak arya ramah.Mira hanya mengangguk & menurut. Sedangkan gena, ia sedang mengomel tak jelas.

DIpuncak…
Pak joko selaku penanggung jawab acara , memerintahkan semuanya agar berkumpul dan membagi tugas masing masing . Mira kebagian tugas mencari kayu bakar di hutan.
“Ya tuhan!kejam amat dunia..ini kan kerjaannya cowok!”Rutuk mira sambil memungut kayu bakar di hutan.tiba-tiba di belakangnya ada arya yang baru datang dan tau kalau orang yang didepannya itu mira.ia melihat wajah mira yang cemberut. “Ehm, kenapa dek? Kok cemberut gitu wajahnya?”Tanya arya sambil sedikit tertawa.Mira yang tengah mengambil kayu bakar, berbicara tanpa menoleh pada arya.
”Gimana gue gak cemberut sih kak..ini kan bukan kerjaan cewek.”Kata mira berapi-rapi. Melihat mira seperti itu , arya pun juga ikut mengambil kayu bakar bersamanya.”Ya udah,, gue bantuin ya..”Katanya ramah. “Nah, gitu donk.. makasih ya kak”Saat mira mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya bahwa yang sedari tadi bicara dengannya yaitu arya.arya yang melihat mira begitu, hanya melempar senyum.

Saat mereka, hendak keluar dari hutan, mereka tidak menemukan jalannya, jadi intinya mereka tersesat. “Aduh kak, gimana nih..kita tersesat kan ya..dan gelap lagi” Mira merinding cemas.”Terpaksa, kita bermalam disini deh..”sahut arya tanpa menoleh ke mira.”Tapi…”Mira benar benar tak yakin akan keputusan arya, berduaan dengan cowok ditempat gelap? Gk mungkin!. Arya yang menyadari kegelisahan mira langsung tersenyum sambil berkata “Lo tenang aja, gk akan kenapa2 kok. Lo tidur di sini , gue disono tuh..”Arya menunjuk tempat sekitar 10 m didepannya.Akhirnya mira munurut.

Esokpaginya…. Mira terbangun saat mendengar suara berisik yang mengganggunya.ternyata, arya sedang membereskan kayu bakar yang diambilnya tadi malam.”Pagi” sapa arya ramah,,ketika melihat mira duduk memandangnya.”Pa-pagi” mira sedikit gugup menjawab sapaan arya.
“Ya udah, kita berangkat sekarang yuk”Ajak arya, dan mira mengangguk.

Mereka berjalan bersama , ditengah perjalanan tiba-tiba arya mendorong mira saat melihat ujung ranting yang hampir tumbang. Ia membiarkan dirinya yang terkena tumbangan ranting itu.
“ARYA!!!” Terdengar lengkingan suara cewek. Suara itu pun semakin dekat. Ya.. pemilik suara melengking itu gena.Mira menolong arya berdiri, arya tersenyum kepadanya.
”Hati hati kak” kata mira pelan.
Gena langsung panik melihat luka robek ditangan arya.”Arya, kamu ngga papa?”Tanya gena. “Gena, iya ngga papa kok”Kata arya tersenyum. Dasar gena begok!luka begitu malah nanya nggak papa. Bukannya bantuin juga!!ini juga kak arya , robek begini dibilang gak papa(batin mira). Mereka pun kembali ke kemah masing masing.

Malamharinya… Mira tengah, ayik bersama api unggun yang menemaninya. Tiba-tiba mira teringat dengan arya. Apa ia sudah mengobati lukanya ya?mira celingukan kesana kemari.
“Nyari siapa?” Tanya orang yg sedang dicari dari belakang mira.
“Eh, kak arya. Ng-nga ada kok kak..hehe”Jawab mira gelagapan.
“Ooh,, aku ke sana dulu ya, tdi cuma lewat aja kok” Kata arya menjauh, tapi langkahnya terhenti ketika mira memanggilnya lagi.
“Itu.. eh lukanya udah diobati kak?”Kata mira melihat lengan arya.

Arya juga melirik lengannya sekilas, lalu tersenyum.
”Belom sih…ntar aja”. Mira melongo, ia tau ia harus berbuat apa.”Waduh..kok belum sih kak?infeksi ntar!tunggu disini!!”Perintah mira, lalu pergi.Arya hanya bingung dengan sikap mira. Emang dia mau ngapain?. Terpaksa arya hanya menurut.

Tiba-tiba mira datang dengan kotak p3k ditangannya.Mira meraih tangan arya dan langsung mengobatinya. Arya, terus menatap mira yang mengobati lukanya dengan serius. Arya tersenyum melihatnya. “kamu cantik dan baik” Bisiknya pelan. Mira mendengar itu sangat senang, reflex wajahnya bersemu merah . Tapi , ia hanya tersenyum . “oya, nih”kata arya sambil mengambil sesuatu dari jaketnya. Ya.. itu komik conan. Lantas, tanpa ba-bi-bu mira lngsung menyambarnya.
“Ah ini…”
“Gue pinjamin” kata arya dengan mengkedipkan sebelah matanya.

Setelah kejadian itu, mereka semakin akrab dengan arya . bahkan , suatu ketika arya memberanikan diri untuk menembak mira, mira langsung menerimanya. Dan jadilah mereka sepasang kekasih.mereka saling mencintai, selama mereka pacaran,belum tampak sedikitpun mereka bertengkar.mereka selalu pengertian satu sama lain. Itulah prinsip cinta mereka.

Disekolah.. Saat ini entah kenapa perasaan mira benar benar nggak enak. Ia tau, biasanya jika begini yang ia temui adalah arya . Karena arya lah yang bisa menghiburnya. Mira tampak bingung, ngga seperti biasanya jam segini arya belum datang . Mira pun pergi ke kelas arya, tapi arya benar benar belum datang . Terpaksa deh, mira menunggu beberapa saat hingga arya datang .
“Pagi mira ,,kok cemberut sih?” Tanya Tania yang datang dari belakangnya.
“Pagi.. nggak kok, lagi nyariin arya aja sih , liat nggak?” Jawab mira dan bertanya lagi pada Tania.

Sementara yang ditanya Cuma geleng-geleng kepala.
“Udah..ntar juga ketemu tuh, kaya’ anak kecil aja dicariin, mending lo temenin gue ke kantin , yuk” Jawab Tania tertawa, sambil mengapit tangan mira pergi.Di kantin , belum ada sepatah kata pun keluar dari mulut Mira sebelum ia mengatakan ,
“Tan.. kok perasaan gue nggak enak gini ya” Kata mira sambil mengaduk the es nya . “Mungkin lo nggak enak badan aja kali” Sahut Tania santai.
“Tapi , perasaan ini tertuju pada arya tan,, gue takut..” Kata Mira sedih .
“Ya Tuhan Mira.. Semua baik baik aja ok!lo itu Cuma kangen,, Cuma kangen..” Kata Tania sambil menepuk bahu mira pelan. Mira Cuma tersenyum mendengarnya . Ia masih memikirkan arya.

Mira melamun, ia terus terus mengulang perkataan Tania “semua baik baik aja” jadi gue nggak perlu cemas (batin mira) .
“Mira!!” Teriak seorang cowok dari jauh . Reflex menghentikan lamunan mira. Mira dan Tania serempak menoleh .
“Ngapain kak?”Tanya Tania. Rio masih ngos-ngosan namun, ia tetap menjawab .
“Mir, hh..lo..ikut hh..gue sekarang” Kata Rio tanpa menoleh ke Tania.
“eh..eh ada nih?” Tanya Tania curiga. “Itu…hhh..Kata anak2 hhh..arya kecelakaan..” Kata Rio pelan. Mira yang mendengar reflex bediri dan membalik .
”APAAAA!!” Teriak Mira dan Tania bareng . Akhirnya Mira , Tania ,juga Rio pergi ke rumah sakit tempat arya berada . Selama perjalanan Mira terus terusan menangis tak percaya.Ia takut terjadi apa apa pada arya.

Dirumahsakit… Mereka sampai di rumah sakit . Mira langsung berlari setelah mengetahui kamar arya . Di sana tampak telah hadir kedua orang tua arya dan sodara lainnya. Mira kaget melihat mereka yang tak henti hentinya menangis . Mira mendatangi mereka.

Tampak Mira yang mendekat , ibu arya pun bersuara .
”Nak mira , masuk ya . arya menunggu di dalam” Katanya sendu .

Mira pun menurut dan pergi ke kamar arya. Mira shock saat membuka pintu kamar arya .Tampak di sana arya yang dibaluti perban dan dikerubungi selang di sana sini . Seakan tak sadar , mira munutup mulutnya dan air matanya mengalir. Perlahan mira masuk dan menutup pintu. Mira mendekat ke kasur arya .
“Arya.. kenapa?” Kata mira pelan . Arya mendengar nya, ia pun membuka matanya . Dan tersenyum melihat mira datang .
“Mira..kamu datang” Kata Arya pelan. Pelan sekali .
“Kamu kenapa begini?hiks..hiks..”Kata mira dalam tangisnya .
“Aku ngga papa mira .” Kata arya meyakinkan mira , ia memegang tangan mira lembut.
“Kamu..kamu bakalan bersama aku lagi kan?” Tanya mira terisak .
“Pasti mira.. pasti! Sekarang kamu jangan nangis lagi ya.. senyum dong” Kata arya sambil tersenyum.

Mira menggeleng . Mana bisa ia tersenyum di saat begini . Arya tampak kecewa.
“Mira please , senyum ya ..” Kata arya tulus. Akhirnya mira pun tersenyum walau terpaksa. Arya juga tersenyum melihatnya.
“Mira.. kamu mau kan janji sama aku?” Tanya arya pada mira yang masih terisak.Mira hanya mengangguk. “Kamu nggak boleh nangis lagi buat aku ya , aku sedih melihatnya . Aku Cuma mau kamu tersenyum buat aku . Aku pasti seneng banget.Ok!” Kata arya sambil tersenyum . lagi lagi mira hanya mengangguk.
“Kamu tau .. aku sangat mencintaimu . Sampai kapan pun kamu selalu dihatiku . Kamu nggak akan terganti.” Kata arya pelan. “Kamu juga… “ Kata mira sambil menggenggam tangan mira.
“Kamu harus ingat ya mira, aku tidak akan lupa dengan dirimu . Aku mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini.” Kata arya lirih. Mira semakin terisak mendengarnya . “Aku mencintaimu…..” Kata arya pelan sekali. Benar benar pelan.dan sebagai kata terakhirnya .

Sesaat terdengar suara dentingan panjang dari monitor di sebelah arya . Reflex mira menoleh pada arya bertepatan pada dentingan itu . Mira kaget melihat arya menutup matanya untuk selamanya . Mira berusaha mengguncang tubuh arya . Tapi tidak bereaksi apa-apa.
“ARYAAA!!” Teriak mira kencang , ia ambruk jatuh ke lantai . Tangisnya menjadi-jadi . Semua yang diluar pun masuk ke dalam . Termasuk Tania dan rio . Tania berusaha menenangkan mira.
(Reff nya lagu suju the one i love) =))dengerin ya, sedih bgt lo!wkwk

"Mir.. udah, lo ikhlasin dia ya" Kata tania menenangkan.
"Dia bohong tan.. dia udah janji nggak bakalan ninggalain gue. tapi buktinya,," sahut mira dalam isaknya.
"Dia emang nggak ninggalin elo! Dia selalu untuk lo. di hati lo!" kata tania lagi dalam nada membentak.Mira hanya diam dengan isakannya.

Dua hari setelah pemakaman , mira masih saja bersedih . Saat ini ia sedang dikamar nya yang ditemani Tania . Mira masih diam membeku sambil memeluk foto arya. Walau dibilang tak menangis , namun airmata nya terus mengalir dalam diamnya.
Tania juga sedih melihat sahabat nya begitu .
“Mir.. elo sudah janjikan nggak akan menangis lagi buat arya, jangan ingkari janji lo. Arya bakalan sedih melihat lo begini mir.” Kata Tania dengan menggenggam tangan mira.
“Nggak..gue nggak nangis.Gue nggak nangis untuknya , gue nangis untuk kenangannya.Semua kenangannya . ya.. semuanya” Kata Mira lirih , lalu tersenyum . Tania tersenyum mendengarnya, ia mendekap mira kebahunya.
“Baguslah…..



Kisah Cinta Mengharukan

Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.

Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.

“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.

“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita

“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.

Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.

Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....

“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.

Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.

“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.

Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.

“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.

“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.

“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.

“Gita,” jawab Qori.

Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.

Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.

“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.

“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.

Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.

“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.

Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.

“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.

Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.

Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.

“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.

“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.

Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.

“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.

Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.

Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?

“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.

Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.



Cinta Pertama Dan Terakhir

"rio .. turun nak" teriak bunda dari ruang tamu.
"ada apa sih bun ??" teriak rio dari dalam kamar.

"udah kamu buruan kesinii" jawab bunda.

Rio pun keluar kamar dengan malas-malasan, "kenapa sih bun ?? Rio tuh ca..." kata-kata rio terputus ketika melihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa. Saat dia melihat rio, dia melemparkan senyum yang sudah lama tak ku lihat. Seketika itu rasa cape rio hilang. Rio tersenyum.

"Ify??" kata rio tak percaya saat melihat seorang yang sangat rio sayangi. Seorang yang telah ditunggu rio selama 3tahun.

Cinta pertama rio.
"hy yo" sapa gadis itu yang ternyata bernama Ify

"bunda tinggal dulu ya Ify" kata bunda lalu pergi meninggalkan rio & ify.

Rio berlari menuju arah ify lalu memeluknya.
"Ifffyyyy kapan lo pulang?? gue kangeeen banget sm lo" 3tahun lalu Ify pergi ke singapura untuk berobat tapi rio juga tak tau apa penyakitnya.

"aduh..sakit yo" rintih ify kesakitan karena pelukan rio yang kencang,

"eh sorry fy, abisnya gue kangen banget sama lo" kata rio sambil tersenyum memandang wajah ify.

"haha biasa aja kali yo, gue tau kalo gue tuh ngangenin" kata ify sambil tertawa lepas.

"ih dasar .." kata rio sambil mengacak acak rambutnya

Skip aja yaah...

keesokan harinya

Rio mengajak ify pergi ke taman, tempat favorit mereka dulu.

"gue gak nyangka lo akan bawa gue kesini lagi" kata ify.

"emang kenapa ?? lo gak suka gue bawa ke sini??" tanya rio penuh curiga.

"eh bukan gitu, gue seneng kok, seneng banget malah" kata ify sambil tersenyum manis.

'apa aku bisa terus sama kamu ? apa aku bisa terus liat senyum kamu itu fy?' batin rio.

Rio memegang tangan ify dan rio bisa melihat raut wajahnya yang berubah menjadi kaget, perlahan wajahnya mulai memerah. Rio tersenyum kecil.

"3tahun gue nunggu fy, dan gue pengen ngomong sesuatu sama lo sebelum semua terlambat" rio melihat raut keheranan di wajah ify, orang yang rio sayang.

"ngomong apaan ??" tanya ify penasaran. Rio tersenyum lembut pada ify dan tetap memegang erat tangan ify.

"apa lo tau perasaan gue selama ini ke lo??

Ify menatapku tak mengerti. Rio pun melanjutkan perkataannya "gue sayang sama lo ify, sayaaaanggg banget..apa lo gatau ?? apa sikap gue selama ini belom bisa nunjukin bahwa gue sayang sama lo ??" kata rio mengungkapkan perasaannya pada ify. Ify semakin tak mengerti

"lo nembak gue ??" tanya ify penuh rasa heran. Rio tersenyum untuk menjawab pertanyaannya yang berarti 'iya'

"hmm..gue pikir pikir dulu boleh ga ??" tanya ify.

"boleh, tapi jangan lama lama ya, ntar gue keburu pergi" kata rio.

"pergi ?? lo mau kemanaa ?? mau pindah ??" tanya ify dengan raut wajah sedih.

"bukan .. udah lo gak perlu tau. pokoknya gue tunggu jawaban dari lo" kata rio menjelaskan.

Suasana sepi beberapa saat, suara hp ify membuyarkan suasana sepi.

"halo ??" ify mengangkat telfonnya "yah, ntar dulu deh maa .... ih iyadeh aku pulang sekarang" ify menutup telfonnya.

Sambil mendesah kecil ify berkata "huh..anterin gue pulang yo" rio menatapnya heran.

"hoh kenapa ?? baru juga bentar" tanya rio pada ify.

"tapi gue disuruh pulang" kata ify dengan wajah cemberut

"oohh..iyadeh gue anter. tapi jangan lupa sama jawaban lo ya" kata rio mengingatkan ify.

"siap bos" kata ify sambil tertawa lepas.

'apa aku bisa ninggalin kamu fy ?? apa aku bisa liat kamu sedih kalo aku ninggalin kamu nanti ??' batin rio.

Rio menggandeng tangan ify menuju motornya dan mengantar ify pulang.


Skiipp..


Rio gelisah, sudah seminggu tak ada kabar dari ify. Seminggu setelah hari dimana rio menyatakan cinta padanya. Apa dia lupa sama rio ?? Atau dia kembali lagi ke singapura ?? Lalu bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan rio ??

Tiba tiba kepala rio terasa pusing, darah segar menetes dari hidungnya. 'Oh Tuhan mengapa penyakitku semakin parah sajaa..' batin rio.

Rio membuka lagi map merah pemberian dokter tadi siang. Kangker otak stadium akhir.Rio melap hidungnya dengan tangan, lalu mengambil motor dan segera melaju kerumah ify.

Setelah rio sampai, rio melihat ramai sekali rumahnya. Rio turun dan mulai melangkah menuju halaman rumah ify. 'kenapa semua menangis ?? ada apa ini' pikir rio.

Saat aku memasuki rumah ify, betapa kagetnya rio melihat sosok seorang yang rio sayangi terbaring lemas tak bernyawa. Air mata rio pun mengalir membasahi pipinya.

"Iffyyyyyyy..."tangis rio pecah, rio tak bisa menahan air matanya lagi. Rio terpukul, rio tak bisa menerima kenyataan.

Dari dalam rio melihat acha, adik ify keluar menghampiri rio. Dia memberikan surat pada rio. Segera rio membuka surat itu, apa isi surat itu.

Dear rio,

Maafin gue ya, gue harus pergi ninggalin lo.Maaf selama ini gue ga cerita tentang penyakit gue ke lo, gue cuma ga pengen liat lo sedih.Maaf gue ga bisa habisin saat terakhir gue sama lo, gue yakin lo bisa tanpa gue.

Lo mau tau ga jawaban gue ?? gue mau yo, gue juga sayang sama lo. Udah lama gue nunggu lo nyatain cinta ke gue. Tapi kenapa baru sekarang ??

Gue sayang sama lo yo, tetep senyum ya pangerankuu ..

I love u forever

byee ...

Tangis rio semakin kencang, rio berlari menuju jasad ify yang tergeletak lemas. Rio mengguncangkan tubuh ify, berharap ify bangun dan memelu rio "Ifyy,, bangun fyy, bangunnn"

Tak lama kemudian rio merasakan pusing yang teramat sangat, rio merasakan hidungnya dialiri oleh darah segar. Matanya perlahan tak dapat melihat apa apa dan kemudian gelap.

Rio melihat ify tersenyum padanya mengajak rio menuju suatu keabadian. Rio memegang tangannya, rio ikut dengan ify menuju surga.

Ify lah cinta pertama dan terakhir Rio. Cinta yg abadi.



Masa Laluku

Mengenang masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupku…
Saat itu aku masih berada di kelas 5 SD , di mana kutemukan cinta pertamaku. Ia berada 1 tingkat di atasku , yaitu kelas 6SD saat itu. Aku menemukannya dan jatuh cinta padanya saat di sekolah minggu. Saat itu kami melakukan kegiatan outdoor dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuatku tak bias melepas pandanganku darinya. Tapi, aku tak member tahu bahwa aku jatuh cinta kepadanya, bahkan teman – temanku sendiri.

Suatu saat , temanku mengetahui bahwa aku menyukai kakak kelas itu dan kakak kelas itu ternyata adalah tetangga temanku itu.Dan hal itu pun menjadi rahasia kami berdua. Selama 2 tahun kami menyimpan rahasia kecil itu. Lalu, saatnya pengumuman kelulusan. Aku dan temanku lulus dengan peringkat memuaskan , ranking 1 dan 2. Saat itu, kakak kelas yang kusukai itu dating kepada temanku dan menyatakan perasaannya. Ternyata , ia menyukai temanku itu. Mungkin karena semata –mata tidak mau melukai perasaanku. Aku dating kepada mereka berdua , lalu aku berkata sambil tersenyum , “ Sudahlah. Aku tahu kamu menyukainya , terimalah ia. Aku tidak apa-apa. Jangan pikirkan perasaanku , ya. Jagalah ia… buatku… “ Lalu temanku itu memelukku dan berterimakasih kepadaku. Kakak kelas itu hanya tersenyum kepadaku. Senyum yang memiliki makna “ Terima Kasih “. Aku pun pergi.

Saat SMP , aku pindah sekolah dan tak bertemu mereka berdua lagi. Kalau memang ada kesempatan pun , lebih baik tak bertemu mereka. Aku takut luka yang sudah ditutup oleh orang lain akan terkoyak kembali. Ya, mungkin aku memang sebaiknya tak bertemu mereka lagi, walau ada rasa rindu untuk bertemu. Tapi, rasa sakit dan sedih menekanku. Sudahlah… Lebih baik begini saja…



CAHAYA BULAN
Cerpen Guy de Maupassant

Madame Julie Roubere tengah menanti kedatangan kakak perempuannya, Madame Henriette Letore, yang baru saja kembali dari perjalanan ke Negeri Swiss.

Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.

Akhirnya, pintu rumahnya diketuk, dan kakaknya muncul dalam balutan jaket tebal. Dan tanpa salam formal, mereka berpelukan penuh kasih dalam waktu yang cukup lama, melepaskan pelukan sebentar lalu saling memeluk lagi. Kemudian, mereka saling menanyakan kabar, keluarga dan ribuan hal lain, menggosip dan saling menyela, sementara Madame Henriette sibuk melepas jaket dan topinya.

Malam cukup gelap. Madame Roubere menyalakan lampu kecil, dan tak lama kemudian, dia acungkan lampu itu ke atas untuk menatap wajah kakaknya, lalu memeluknya sekali lagi. Namun, betapa terkejutnya dia saat menatap wajah kakak tercintanya itu. Dia mundur dan tampak ketakutan.

Di kepala Madame Letore tampak dua gepok besar rambut putih. Sisanya, rambut itu tampak hitam pekat berkilauan dan di setiap sisi kepalanya terdapat dua sisiran keperakan yang menyusur ke tengah gumpalan rambut hitam yang mengitarinya. Dia baru berumur 24 tahun, dan tentu saja perubahan ini benar-benar mengejutkan dia semenjak kepergiannya ke Swiss.

Tanpa bergerak sedikit pun, Madame Roubere menatap penuh keheranan, titik-titik air mata menetes ke kedua pipinya. Pikirannya berkecamuk, bencana apa yang telah terjadi pada kakaknya.

Dia bertanya, "Apa yang terjadi padamu, Henriette?"
Dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang sedih, senyum seseorang yang patah hati, Henriette menjawab, "Tidak ada apa-apa. Sumpah. Apakah kamu sedang memperhatikan rambut putihku ini?"

Tetapi Madame Roubere keburu merampas pundaknya, menatapnya tajam, dan mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apa yang terjadi padamu? Ayo katakan, apa yang telah terjadi. Dan jika kamu berbohong, aku pasti akan mengetahuinya."

Mereka masih saling pandang, dan Madame Henriette, yang terlihat seolah-olah hendak pingsan, meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.
Adiknya bertanya lagi, "Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi? Ayo jawab aku!"

Dengan suara patah-patah sambil tersedu, Henriette menjawab, "Aku … aku punya seorang kekasih."
Ketika sedikit lebih tenang, ketika degup jantungnya yang keras mulai mereda, dia memasrahkan kepalanya ke dada adiknya seolah-olah hendak melepaskan semua beban hatinya, untuk menguras seluruh derita yang telah menyesakkan dadanya.

Dengan tangan saling bergenggaman, dua kakak beradik ini berjalan menuju sofa di sudut ruangan yang gelap. Mereka tenggelam dalam keharuan, sang adik memeluk kakaknya erat-erat untuk mendekatkan diri, lalu mendengarkan.
"Oh! Aku tahu kalimatku ini tidak masuk akal; aku bahkan tidak dapat memahami diriku sendiri, dan semenjak itu aku merasa telah menjadi orang gila. Berhati-hatilah, adikku, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri! Jika saja kamu tahu betapa lemahnya kita, betapa cepatnya kita menyerah dan jatuh. Cukup satu momen kelembutan saja, satu masa melankolis yang menerpamu di antara ribuan kerinduan untuk membuka tanganmu, untuk mencintai, menyukai sesuatu, maka kamu pun akan dengan mudah jatuh.

Kamu mengenal suamiku, dan kamu tahu betapa aku mencintainya; tetapi dia pria yang matang dan rasional, dan tak mampu memahami getaran lembut hati seorang wanita. Dia selalu sama, selalu baik, selalu tersenyum, selalu ramah, selalu sempurna. Oh! Betapa kadang-kadang aku berharap agar dia memelukku dalam kedua tangannya lalu memberiku ciuman lembut yang manis dan pelan-pelan. Betapa aku berharap agar dia menjadi pria yang bodoh, bahkan lemah, sehingga dia merasa membutuhkanku, membutuhkan belaianku dan air mataku.

Semua ini kelihatannya culun; tetapi kita, para wanita, memang ditakdirkan seperti itu. Apa daya kita? Tapi, tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan suamiku. Sekarang terjadi, tanpa cinta, tanpa alasan, tanpa apa pun, hanya karena bulan telah menyinariku suatu malam di pinggir Danau Lucerne itu.

Selama satu bulan itu, ketika kami melakukan perjalanan bersama, suamiku, dengan sikapnya yang masih acuh tak acuh, telah melumpuhkan semangatku, memadamkan rasa puitisku. Ketika kami menuruni jalan-jalan di pegunungan saat matahari terbit, ketika dua ekor kuda saling bersenda-gurau, dalam keremangan kabut, kami memandang lembah, hutan, sungai dan pedesaan, aku bertepuk tangan keras-keras dan berkata kepadanya: ’Betapa indahnya, wahai suamiku! Beri aku ciuman! Cium aku!’ Dia hanya menjawab, dengan senyum dinginnya: ’Tidak ada alasan bagi kita untuk saling berciuman hanya karena kamu menyukai pemandangan ini.’

Dan kalimatnya itu telah membekukan hatiku. Menurutku, ketika dua orang saling mencintai, mereka harusnya semakin tersentuh oleh pemandangan-pemandangan yang indah. Aku membeku bersama puisi hatiku. Aku seperti tungku yang tersiram atau botol yang tersegel rapat.

Suatu malam (kami menginap empat malam di sebuah hotel di Fluelen), karena sakit kepala, Robert langsung tidur setelah makan malam, dan aku berjalan sendirian menyusuri jalan di pinggir danau itu.

Malam itu berlalu seperti dongeng-dongeng sebelum tidur. Bulan purnama mendadak muncul di atas langit; pegunungan tinggi, dengan semburat putih salju, seperti mengenakan mahkota warna perak; air danau gemericik dengan riak-riak kecil yang berkilauan. Udara begitu lembut, dengan kehangatan yang merasukiku sampai seperti mau pingsan. Aku begitu kepayang tanpa sebab apa pun. Tetapi, betapa peka, betapa bergolaknya hati saat itu! Jantungku berdegup keras dan emosiku semakin kuat.

Aku duduk di atas rumput, menatap danau yang luas, melankolis dan menakjubkan itu, seolah-olah ada perasaan aneh merasukiku; aku terangkum dalam rasa haus akan cinta yang tak terlegakan, sebuah pemberontakan terhadap kebodohanku sepanjang hidupku. Apa! Tidakkah menjadi takdir bagiku untuk dapat berjalan dengan seorang pria yang kucintai, dengan tangan saling berpelukan dan mulut saling berciuman, di pinggir danau seperti ini? Tidak bolehkah bibirku mengecap dalamnya ciuman yang lezat dan memabukkan di malam yang telah diciptakan Tuhan untuk dinikmati? Apakah ini nasibku untuk tidak meresapi indahnya cinta dalam bayang-bayang cahaya bulan di malam musim panas ini?

Lalu tangisku meledak seperti wanita gila. Kudengar sesuatu bergerak di belakangku. Dan seorang pria berdiri di sana, menatapku tajam. Ketika kupalingkan kepalaku, dia mengenaliku dan berkata, ’Kamu menangis, nyonya?’

Dialah pemuda yang tengah melancong bersama ibunya, dan kami sering bertemu. Matanya seringkali menguntitku. Aku begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Kujawab saja bahwa aku sedang sakit.

Dia berjalan di dekatku dengan cara yang santun dan lembut, lalu mulai berbicara kepadaku tentang perjalanan kami. Segala yang kurasakan telah dia terjemahkan ke dalam kata-kata. Segala hal yang membuatku bergairah dapat dia pahami dengan sempurna, lebih baik dari diriku sendiri. Dan tiba-tiba dia mengutip larik-larik puisi Alfred de Musset. Tenggorokanku tersekat, aku terpesona dengan emosi yang meluap-luap. Terlihat di sekelilingku, pegunungan, danau dan cahaya bulan tengah bernyanyi untukku.

Lalu terjadilah. Entahlah. Aku tak tahu kenapa, semacam sebuah halusinasi.

Aku tidak bertemu lagi dengannya, sampai suatu pagi dia harus melanjutkan perjalanannya lagi. Dia memberiku sebuah kartu!"

Lalu, sambil jatuh ke dalam pelukan adik perempuannya itu, Madame Lotere menangis sesenggukan, nyaris seperti anak kecil. Madame Roubere, dengan wajah serius, berkata dengan lembut, "Dengarlah, kakakku, seringkali bukanlah seorang pria yang sesungguhnya kita cintai, tetapi cinta itu sendiri. Dan cahaya bulanlah yang menjadi kekasih sejatimu malam itu."

Catatan: Judul asli Moonlight karya Guy de Maupassant. Cerpen ini diterjemahkan oleh Ribut Wahyudi, penulis dan pengelola penerbitan di Jogja. Guy de Maupassant adalah cerpenis kelahiran Chateau de Miromesniel, Dieppe pada 5 Agustus 1850. Selama hidupnya, dia telah menulis lebih dari 300 cerita pendek, enam novel, tiga buku perjalanan, dan sebuah kumpulan puisi. Maupassant sudah menderita sifilis semenjak usia 20 tahun. Pada 2 Januari 1892, dia berusaha bunuh diri dengan menusuk tenggorokannya sendiri. Dia meninggal pada 6 Juli 1893.


Nah, bagaimana cerpen cinta diatas. menarik bukan? anda mungkin memiliki pengalaman seperti yang tertuang dalam cerpen diatas, haha. baiklah, sekian dulu mengenai kumpulan cerpennya. imedz

Spesial thanks to LokerSeni.web.id

Kumpulan Cerpen Persahabatan, LENGKAP !!!

kumpulan cerpen persahabatan
Kumpulan Cerpen Persahabatan - Contoh Cerpen dibawah ini membahas tentang Cerpen bertema persahabatan. bagi anda yang sedang mendapat tugas dari sekolah mungkin bisameng-copy salah satu cerpen dibawah ini. tentu menarik bukan jika menilai persahabatan seseorang apalagi jika dituangkan dalam bentuk karya tulis seperti cerpen misalnya. nah, bagi kamu kamu para remaja yang hobby membaca, mungkin salah satu daftar cerpen dibawah ini patut untuk anda simak. langsung saja ini dia . . .


Kumpulan contoh Cerpen Persahabatan :


Persahabatan Terlarang

Sejak pertemuan itu, aku dan Devan mulai bersahabat. Kami bertemu tanpa sengaja mencoba akrab satu sama lain, saling mengerti dan menjalani hari-hari penuh makna. Pesahabatan dengan jarak yang begitu dekat itu membuat kami semakin mengenal pentingnya hubungan ini.

Tak lama kemudian, aku harus pergi meninggalkannya. Sesungguhnya hatiku sangat berat untuk ini, tapi apa boleh buat. Pertemuan terakhirku berlangsung sangat haru, tatapan penuh canda itu mulai sirna dibalut dengan duka mendalam.

“Van maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah ku lakukan, ya.” Kataku saat ia berdiri pas di depanku.

“kamu gak pernah salah Citra, semua yang udah kamu lakukan buat aku itu lebih dari cukup.”

“pleace, tolong jangan lupain aku, Van”

“ok, kamu nggak usah khawatir.” Sesaat kemudian mobilku melaju perlahan meninggalkan sesosok makhluk manis itu.

Ku lihat dari dalam tempatku duduk terasa pedih sangat kehilangan. Jika nanti kami dipertemukan kembali ingin ku curahkan semua rasa rinduku padanya. Itu janji yang akan selalu ku ingat. Suara manis terakhir yang memberi aku harapan.

Awalnya persahabatan kami berjalan dengan lancar, walau kami telah berjauh tempat tinggal. Pada suatu ketika, ibu bertanya tentang sahabat baruku itu.

“siapa gerangan makhluk yang membuatmu begitu bahagia, Citra?” tanya ibu saat aku sedang asyik chatingan dengan Devan.

“ini, ma. Namanya Devan. Kami berkenalan saat liburan panjang kemarin.”

“seganteng apa sich sampai buat anak mama jadi kayak gini?”

“gak tahu juga sih ma, pastinya keren banget deh, tapi nggak papah kan, Ma aku berteman sama dia.?”

“Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?”

“kami berbeda agama, Ma”

“hah??,” sesaat mama terkejut mendengar cerita ku. Tapi beliau mencoba menutupi rasa resahnya. Aku tahu betul apa yang ada di fikiran mama, pasti dia sangat tidak menyetujui jalinan ini. Tapi aku mencoba memberi alasan yang jelas terhadapnya.

Sehari setelah percakapan itu, tak ku temui lagi kabar dari Devan, aku sempat berfikir apa dia tahu masalah ini,,? Ku coba awali perbincangan lewat SMS..

“sudah lama ya nggak bertemu? Gimana kabarnya nech,,? “

Pesan itu tertuju kepadanya, aku masih ingat banget saat laporan penerimaan itu. Berjam-jam ku tunggu balasan darinya. Tapi tak ku lihat Hp ku berdering hingga aku tertidur di buatnya. Tak kusangka dia tak membalas SMS ku lagi.

Tak kusangka ternyata mama selalu melihat penampilan ku yang semakin hari semakin layu.

“citra, maafkan mama ya, tapi ini perlu kamu ketahui. Jauhi anak itu, tak usah kamu ladeni lagi.” Suara mama sungguh mengagetkan ku saat itu. Ku coba tangkap maknanya. Tapi sungguh pahit ku rasa.

“apa maksud mama?”

“kamu boleh kok berteman dengan dia, tapi kamu harus ingat pesan mama. Jaga jarak ya, jangan terlalu dekat. Mama takut kamu akan kecewa.”

“mama ngomong paan sih,? Aku semakin gak mengerti.”

“suatu saat kamu pasti bisa mengerti ucapan mama” mamapun pergi meninggalkan ku sendiri.. Aku coba berfikir tenteng ucapan itu. Saat ku tahu jiwa ini langsung kaget di buatnya.. tak terasa tangispun semakin menjadi-jadi dan mengalir deras di kedua pipiku. Mama benar kami berbeda agama dan nggak selayaknya bersatu kayak gini. tapi aku semakin ingat kenangan saat kita masih bersama.

Satu tahun telaj berlalu, bayangan tentangnya masih teikat jelas di haitku. Aku belum bisa melupakannya. Mungkin suatu saat nanti dia kan sadar betapa berharganya aku nutuknya.

Satu harapan dari hatiku yang paling dalam adalah bertemu dengannya dan memohon alasannya mengapa ia pergi dari hidupku secepat itu tanpa memberi tahu kesalahanku hingga membuat aku terluka.

Pernah aku menyesali pertemuan itu. Tapi aku menyadari betapa berartinya ia di hidupku. Canda tawa yang tinggal sejarah itu masih terlihat jelas di benakku dan akan selalu ku kenang menjadi bumbu dalam kisah hidupku.

Devan, kau adalah sahabat yang paling ku banggakan. Aku menunggu cerita-ceritamu lagi. Sampai kapanpun aku akan setia menunggu. Hingga kau kembali lagi menjalani kisah-kisah kita berdua.

Persahabatan

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.


Temanmu Temanku

“asssssiiikkkkk….”
Teriak Diana masuk dalam kelas dan menghampiri bangku yang diduuki teman sebangkunya Asti..
“Hey ti, tau ga? Tadi aku dapet berita katanya temanku smpku mau liburan ke Amerika..”
Ucap Diana terlihat sangat senang , dan badanya tidak ikit diam…
Asti rupanya terlihat bingung, ia mengeritkan dahinya dan bertanya pada Diana.
“Lalu kenapa kamu yang senang na ? aneh dehhh ?” ungkap Asti sebari mengambil buku dalam tasnya.
“Hemmmmm……hehehe J”
Diana hanya bergumam sebari dia duduk di tempt duduknya biasa dan terlihat tersenyum senyum ga jelas..
“Idihhh kamu ga jelas dehh..di Tanya kok malah cengar cengir ga jelas gitu ..!?”
Diana menghadapkan badanya pada asti, Diana mencolek tangan Asti pertanda agar asti pun ikut menghadap ke arahnya.
Astipun menghadap. Dan Diana menjawab pertanyaan Asti tadi
“Iya aku ikut senaglah soalnya…emmmmm” ucap Diana belum selesai..
“Soalnya kenapa ?????”
“Iya soalnya aku juga di ajak ma temanku bwat liburan ke Ameika juga .” jelasnya, dina tersenyum senang pada Asti yang terkejut..
“wahhh masa sin a ?” Tanya Asti tidak percaya !
“ihhh iya tau, BENERAN !!” jawab Diana meyakinkan Asti.
“hemmm enak kamu “ ungkap Asti sebari mengarahkan badanya lagi kedepan dan membuka buku yang ia keluarkan tadi dari dalam tas.
“ihhh Asti aku pengen kamu ikut…” rengek Diana.
“emang di bolehin?” Tanya Asti
“Mungkin aja…!???” ujar Diana.
“hemmm ga munkinlah…jiahhh” celoteh Asti.
Bel sekolahpun berbunyi menandakan palajaran kelas pertama akan segera di mulai. Dating seorang wanita setengah bay memasuki kelas, dia adalah Ibu Dewi, guru IPA. Palajaranpun berjalan dengan lancar, jam demi jam di lalui dan tentunya dengan pergantian pelajaran tiap jam sampai tiba waktunya jam pulang.
Diana sampai dirumahnya, lansung saja dia pergi ke kamarnya, ia membuka pintu kamarnya dan ia langsing menyimpan tas sekolahnya di atas kasur ia pun membaringakan badanya dengan keadaan sepatu masih terpakai.
Diana mengambil ponsel yang ada di dalam saku seragam SMAnya. Ia mencari kontak yang bernama Feby pada kontak ponselnya dan akhirnya ketemu. Diana lansung saja menelpon Feby dan bercakap cakap dengan Feby di telpon.
Pagi ini Diana sengaja dating lebih awal dari Asti, mungkin akan memberitahukan seseuatu atau mengkin karna Diana memang igin berangakat pagi hari ini.
Asti tiba, ia lansung saja menghampir tempat duduknya dan terrlihat disana sudah ada Diana, iapun lansung saja melontarkan senyumanya pada Diana.
“hey tumben kamu dating pagi ?) Tanya Asti pada Diana sambil tersenyum dan menyimpan tasnya di kursinya dan ia pun terduduk.
“hehe iya aku lafi rajin” jawab Diana “eh aku ingin menyampaikan berita bahagia untukmu “ lanjutnya.
“Apa?”Tanya Asti singkat
“kamu di bolehkan ikut liburan, kmarin aku minta ijin kepada temanku”
“BENERAN na? ihhhhh senenggggggg” ujar Asti terlihat sangat senang.
“iya bener ti, aku juga seneng banget bias liburan ke luar negeri sama sahabatku J”
Seminggu kemudian liburan pun tiba, Diana dan Asti sudah menanti di bandara. Mereka menunggu Feby beserta kakaknya yang tainggal di Amerika dan pulang dulu hanya untuk menjemput adiknya Feby ke Indonesia dan mambawanya ke Amerika.
Dari gerbang terlihat kedatangan Feby dan kakaknya, sama seperti Diana dan Asti, mereka membaea koper berisi pembekalan beserta baju baju ganti.
Dari kejauhan Feby sudah melambaikan tanganya, aku pun membalasnya.
Feby menhampiri mereka “heyy kalian sudah lama menunggu ?? J” Tanya Feby pada Diana dan Asti.
“ga kok feb J” jawab Diana.
“hey ti katanya ga kan ikut ?” Tanya Feby pada Asti.
Diana telihat bingung .”loh jadi kalian udaha pada kenal ?”
“haha iya na, kamu ga tau ya? Padahal kita sering membicarakan kamu saat di sekolah” ucap feby .
Diana menatap Asty kebingungan. Dan Asty hanya bias nyengir pada Diana.
“hehe kita kan temen SD na” kata Asty pada Diana.
“ihhhh kamu ga ngomong ya?” ujar Diana kesel..
“heheheh kamu ga nanya sihhh J”
“hahahah yasudah yang penting kalian udah tau semuanya kan ?” ucap feby menertawakan tingkah mereka. “dan yang penting na kamu bias liburan sama sahabat sahabat mu yang cantik ini,,,hahah” lanjutnya.
Diana hanya tertawa geli dan dia terlihat seperti masih bingung.
“ayo cepet tuh pesawatnya dah mau berangkat “ ajak kakak Feby pada mereka bertiga.
“AYYYOOO..” jawab mereka serentak..kakak Feby naya tersenyum melihat tingakah mereka J. Mereka bertiga berjalan bersama sebari menarik kopernya menuju pasawat dan kakaknya Feby jalan di depan mereka.

Arti persahabatan

Kata orang persahabatan tidak mengenala namanya perbedaan, waktu, jarak, harta ataupun suku. Apapun itu, sahabat akan tetap ada. Sahabat sejati tidak akan pergi walaupun dia telah disia-siakan bahkan tidak dianggap akan arti kehadiranyya dan juga perbuatannya. Yang ada dalam benak dari seorang sahabat adalah bisa selalu ada untuk orang-ornag yang ada didekatnya, entah orang tersebut mengaanggapnya hanya sebatas teman biasa atau orang yang berarti, yang terpenting baginya bisa membantu orang-orang yang ada didekatnya.

Dan inilah kisah persahabatnku. Aku adalah seorang gadis biasa, yang hidup ditengah-tengah masyarakat jawa, yang masih sangat kental ikatan kekeluargaannya. Aku dididik sejak kecil untuk bisa menghargai orang lain, dan menolong orang lain, diajarkan tentang kelapang dadaan dan diajarkan untuk meminta pamrih pada orang lain.

Tapi aku adalah seorang yang terbiasa menyendiri, aku tak terlalu suka keramaian, aku lebih suka duduk diberanda rumah, dan mengisi hari-hariku dengan menulis. Aku sangat suka menulis, apapun itu, aku suka menulis semua apa yang ada dalam pikiranku. Hingga suatu hari aku didatangi oleh seorang yang merubah duniaku.
“hai, kamu asih ya?” Tanya orang itu kepadaku
“iya, kamu siapa?” tanyaku sambil menatap lekat orang itu, siapa tau aku mengenalnya
“kenalin, aku aria” orang itu mengulurkan tangannya
Aku kemudian membalas uluran tangan aria, ternyata dia adalah tetangga baruku. Aku tak tau dari mana dia tau namaku. Mungkin saja dari orang-rang yang ada dilingkunganku. Atau mungkin saja dia sudah lama mengenalku. Hah apapun itu aku tak terlalu peduli.

Aria sering mengusikku, diam-diam dia sering muncul dari belakangku, membaca setiap baris goresan penaku yang kutulis pada kertas-kertas putih buku diaryku. Setelah selesai aku menulis barulah dia mengagetkaknku, dengan mengulang kata-kata yang aku tulis dalam diary ku.
“aku gag suka sama orang baru itu, dia usil dan sering menggangguku” kata aria mengagetkanku
“kamu..!!” kataku kaget bukan main, aku merasa gag enak
“kamu kenapa sih gag suka sama aku, ?” Tanya aria
“em soalnya kamu usil” kartaku kemudian
“em kamu itu cewek paling aneh yang pernah aku kenal” kata aria padaku
“maksud kamu” kataku sambil menatap nya lekat-lekat
“iya, kamu tu gag kayag cewek-cewek pada umumnya, kamu itu agaikan sebatang kara ditengan lautan mentimun” kata aria sekenanya
“aku makin gag ngerti” kataku
“iya, kamu tu kenapa sih suka banget menyendiri, kenapa kamu gag mencoba mencari teman” Tanya aria
“aku lebih suka sendiri” jawabku singkat
“kenapa, padahal aku lihat kamu itu orangnya suka menolong, tapi kenapa kamu gag punya teman” Tanya aria

Aku hanya diam, tak menjawab, hanya menunduk. Aria tau kalau perkataanya telah sedikit menyinggungku,
“maaf ya sih, aku tu gag ingin apa-apa, aku Cuma pengen kamu bisa bangkit, dunia ini tak sebesar daun kkelor” kata aria lalu meninggalkan ku sendiri.
Aku kemudian hanya duduk termenung, mungkin benar kata aria, bagaimana aku bisa mendapatkan teman kalau aku hanya berdiam diri.

Dan akhirnya Aria adalah sahabat petama yang aku punya, dia selalu ada buatku, dia selalu menghiburku, kini duniaku menjadi berubah. Aku pun juga selalu ada untuk aria, bagiku aria sangat penting, karena dia telah merubah warna hidupku. Dulu aku yang hanya seorang yang pendiam, berubah sedikit menjadi agag cerewet, tapi tidak berlebihan.
“makasih ya, arya udah jadi sahabat ku”
“iya sih, sama-sama, pokonya kita harus jadi sahabt selamanya”
“iya, apapun yang terjadi”
Dan tak terasa kami sudah setahun bersahabat, dan kini kami sama-sama kuliah, awal-awal kuliah kami masih sering bertemu, tapi stelah beberapa kuliah, kami jarang bertemu dan jarang berkomunikasi. Aku mencoba mengirim pesan pada aria, tapi tidak ada balasan. Aku merasa ada yang berubah darinya. Aku tak tau apa penyebabnya, semua pesan yang kukirim lewat sms, tak ada satupun yang dibalas.

Aku merasa ada yang kurang setelah perubahan aria kepadaku, kini tak ada lagi pesan-pesan dari aria yang kuterima. Apa benar aria telah melupakaknku, karena dia telah mendapat teman baru, seingatku aria hanya sekali menghubungiku, itu juga karena dia minta tolong untuk dibuatkan tugasnya, pada saat itu aku merasa lega aku kira aria gag lupa sama aku, tapi ternyata aku salah. Itu bisa dibilang pesan terakhir ariya, setelah 2 bulan terakhir.
“hai sih, ngelamun aja” kakak ku mengagetkanku
“eh kak, bikin aku kaget aja”
“iya abisnya kamu ngelamun aja, mikirin apa sih”
“aku bingung aja kak, kakak tau kan kalau selama ini aku berteman baik dengan aria, tapi udah 2 bulan terakhir ini dia berubah kak” keluhku pada kakakku
“berubah gimana?”
“iya kak, sms ku gag pernah dibls, kalau aku telfon juga gag pernah diangkat”
“yah mungkin aja dia sibuk sih”
“iya masak sibuk 2 bulan sih kak” kataku kemudian
“em ya udah nanti biar kakak bantu cari tau deh” kata kak sinta

Waktu hari minggu aku memutuskan untuk pergi kedanau, biasa aku dan aria sering bermain disana. Pada saat itu aku melihat aria, tapi tak sendiri, dia bersama dengan seorang pria, aku mencoba mendekati mereka, tapi langkahku kemudian terhenti,
“gimanaa arya, apa kamu udah berhasil menjauhi asih” Tanya orang itu
“iya, aku udah buat dia benci sama gue juga, sekarang lo udah puaskan” kata aria
“bagus aria, kerja bagus, ini uang buat lo” orang itu memberikan uang pada aria

Aku tak mengerti apa maksud dari semua itu lalu orang itu berkata
“itu uang buat lo, dari kerja keras lo, sesuai dengan perjanjian, lo itu emang the best”

Aku tak tahan lalu aku menghampiri mereka
“aria, apa maksudnya semua ini, jadi kamu selama ini baik sama aku,dan berpura-pura jadi sahabat aku karena uang” aku berkata sambil berlinang air mata

Aria hanya diam, lalu orang itu yang menjelaskan
“iya, betu sekali, dan aria udah berhasil melakukannya, 1 tahun yang lalu, saya dan aria membuat perjanjian dan taruhan jika aria berhasil buat kamu mau bersahabat dengan dia maka aria akn mendapat uang”
“aku gag nyangka ya, ternyata kamu begini, dulu kamu yang bilang, bahwa sahabat itu lebih berharga dari apaun, tapi kenapa kamu justru melakukan ini sama aku” kataku sambil menangis

Aku benar-benar kecewa dan sedih, orang yang kuanggap sahabatku ternyata gag lebih dari seorang yang tak punya perasaan, dia menukar arti persahabatan ini dengan uang.
“maafin aku sih, sebenarnya aku juga gag mau ngelakuin ini aku terpaksa” kata aria
“sebenarnya aku punya salah apa sih sama kamu ya, sampe kamu tega kayag gini” kataku
“aku bener-bener minta maaf sih, aku pada saat itu emang lagi butuh uang” kata aria
“lalu kenapa harus aku yang menjadi bahan taruhanya, lalu apa arti persahabatan kita selama ini”
“karena kamu itu orangnya super pendiam, dan susah buat diajak ngomong, makanya kamu jadiin bahan taruhan” kata teman aria tadi
“aku sebenarnya juga mengaggapmu sahabat terbaik ku sih, aku dua bulan ini menjauhi kamu, karena aku gag mau kamu tahu soal taruhan ini, aku gag mau menghianati persahabatan kita, gue moon maafin gue sih” kta aria
“udah lah ya, kamu gag perlu minta maaf, makasih buat semuanya”

Aku pulang dengan berlinangan air mata, aku gag nyangka, ternyata sekarang persahabatan bisa ditukar dengan uang, padahal aku telah benar-benar menganggap aria teman baikku. Aku pandangi gelas persahabatan kami. 1 tahun yang sangat berarti buatku, ternyata tak berarti apa-apa buat arya. Aku menagis dalam kamarku, rasa ini bahkan lebih sakit dari rasa putus dari pacar. Terdengar suara pintu kamarku diketuk-ketuk
“sih, gue mohon keluar dari kamar, gue mau ngomong sama lo” suara arya diluar. Aku tak menghiraukannya, rasa sakit hati ku sudah lah amat kuat tertancap dalam hatiku.
“gue tau gue salah, tapi gue terpaksa sih, pada saat itu gue ada hutang sama orang tadi, karena buat berobat ibu gue, jadi gue terpaksa terima taruhannya “ kata aria
“tapi kenapa harus gue sih ya, kenapa?” Triakku
“itu karena pilihan dia, aku juga gag ada maksud sih, gue akan melakukan apa ja sih biar lo mau maafin gue” kata aria
“pergi dan jangan pernah temui aku lagi, dan jangan muncul didepan ku lagi, aku nyesel kenal kamu” teriaku.
“baik, kalau itu buat kamu maafin gue, gue akan pergi, jaga diri kamu baik-baik sih”

Setellah itu, aria pergi, dalam hatiku sebenarnya tak rela, tapi aku juga sngat benci diperlakukan seperti ini. 3 hari setelah hari itu, aku kemudian mendengar Aria meninggal karena kecelakaan motor, aku begitu kaget. Dan aku datangi keluarganya, biar bagai manapu, aria pernah menjadi sahabatku. Aku menghadiri pemakamannya, aku tak kuasa menahan air mataku, melihat jenasah sahabatku itu, menghilang, ditelan bumi. Tenyata arya benar-benar tak akan muncul lagi dihadapanku selamanya.
“nak, apa kamu yang namanya asih” ibu arya mendekatiku
“iya benar bug” kataku, sambil menghapus air mataku.

Ibu tua itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah amplop putih dia ulurkan kepada ku
“saat masih dirawat dirumah sakit, aria menuliskan surat ini untukmu, padahal pada saat itu, dia sangat kesusahan untuk memegang pena saja,tapi dia bersikeras” kata ibunya aria, lau pergi
Saat dirumah, aku buka surat itu, tanganku gemetar dan air mataku mengalir dipipiku
Untuk sahabatku asih
Aku benar-benar minta maaf, aku sebenarnya gag pernah ada maksud untuk membohongimu, aku terpaksa melakukan ini, karena butuh uang itu untuk berobat ibuku.
Mungkin saat kamu baca surat ini, aku telah berada disisi Tuhan, aku telah damai berada disampingnya, tapi Tuhan mungkin juga tak akan menerimaku, sebelum kamu memaafkan aku. Di tempat peristirahatKu yang terakhir mungkin q hanya bisamenatapmu. Sih kamu adalah sahabat terbaik yang pernah ku miliki, lewat kamu aku telah mengenal arti persahabatan sesungguhnya. Aku benar benar minta maaf jika udah buat kamu kecewa dan sakit hati
Dan sekarang Aku juga telah memenuhi permintaanmu, untuk tidak muncul selamanya dihadapanmu, dan saat kamu membaca ini, mungkin aku telah tak ada lagi di dunia. Aku merasa waktu ku semakin dekat.
Jadi aku mohon sih, maafin aku. Aku ingin melihat senyummu yang tulus untuk memaafkan aku ketika aku disana nanti. Aku saying kamu sahabatku. Pesanku, carilah terus teman dan sahabat, jangan berhenti, Tuhan pasti tak akan membiarkan gadis sebaik kamu sendiri.
Dari seseoran yang pernah menjadi sahabatmu dan selalu ingin menjadi sahabatmu
Aria
Aku tak kuasa menahan air mataku, tak ada kata-kata yang bisa aku keluarkan. Hanya suara isak tangis. Ternyata aku salah, Aria melakukan ini demi ibunya. Dan kini aku telah kehilangan seorang yang penting dalam hidupku, aku telah kehilangan sahabatku untuk selamanya. Kini semua tentang aku dan aria hanya tinggal kenangan, gelas tanda persahabatan kami, aku peluk erat-erat bersama dengan surat terakhir aria. Aku gag nyangka aria akan pergi secepat ini. Dan kini aku hanya bisa mendoakannya semoga Tuhan menempatkan aria pada tempat yang indah dan aku akan selalu memaafkannya sahabat terbaiku.

Persahabatan Sejati

Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia. Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan supir pribadi.

Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul. Seperti pada kawan kawan Iwan yang datang ke rumahnya. Mereka menyambut seolah keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.

Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon. Rumahnya masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.

“Ke mana, ya,Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu datang.”

“Mungkin sakit!” jawab Mama.

“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat

Sudah tiga kali pintu rumah Momon diketuk Iwan. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Iwan menanyakan ke tetangga sebelah rumah Momon. Iamendapat keterangan bahwa momon sudah dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Momon di-PHK dari pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.

“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam hati,

Di rumah Iwan tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia selalu murung.

“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa menegur

“Momon, Pa.”

“Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?” Iwan menggeleng.

“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.

“Momon sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Iwan tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.

“Kalau Papa tidak percaya, Tanya, deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.

“Lalu apa rencana kamu?”

“Aku harap Papa bisa menolong Momon!”

“Maksudmu?”

“Saya ingin Momon bisa berkumpul kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak.

“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat Momon di desa itu!” kata Papa.

Dua hari kemudian Iwan baru berhasil memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang. Ini karena berkat pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon. Kemudian Iwan bersama Papa datang ke rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam. Bisa di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon ketika bertemu dengan Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu. Semula Momon agak kaget dengan kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau Iwan inginberkunjung ke rumah Momon di desa.

“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat memberi tahu kamu!”

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”

Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua Momon tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.

“Begini, Mon, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” Tanya Papa.

“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan menanggung.”

“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”

Kemudian Iwan bangkit dari tempat duduk lalu mendekat memeluk Momon. Tampak mata Iwan berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan. Kini Momon tinggal di rumah Iwan. Sementara orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Momon yang sudah tua.

Cerpen Sahabat

Kini aku duduk di bangku kelas 3 SMA ya tepatnya di masa putih abu-abu. Kujalani hari putih abu-abuku bersama tiga sahabatku Riko,Diki, dan Mutia sedangkan Mutia adalah sahabatku dari SMP. Kini aku hanya tinggal menghitung hari menunggu Ujian Nasional di laksanakan.

Waktu pulang sekolah tiba, dari sejak istirahat aku,Riko,Diki, dan Mutia telah merencanakan sesuatu untuk tanda janji persahabatan lalu kami berempat ke kebun di belakang sekolah untuk membuat janji tersebut yang ditulis di dalam sebuah kertas yang akan di masukan di botol dan di kuburkan di dalam tanah yang bertulis.......
“Persahabatan adalah ikatan yang tak kan terlupakan. Aku akan selalu ada bersamu sahabat walau jarak yang berjauhan diantara kita bersama, akan kubuka botol ini sesudah kami mendapatkan nilai hasil Ujian Nasional. Sampai kapanpun tak ada istilah teman lama antara kita tetapi hanyalah ada kata teman selamanya.”

Setelah itu barulah kami kuburkan botol tersebut……….
“Mudah-mudahan saja kita berempat bisa terus bersama walau nanti kita sudah lulus dari sekolahan ini” ucap Mutia yang memberikan harapan
“Ia dan nanti botol ini akan kita buka bersama” sahut Diki dengan melanjutkan perkataan Mutia
“Oh…ia temen-temen kalian pada setuju gak kalau di dalam persahabatan kita berempat ini gak ada yang boleh saling jatuh cinta…!!, kayanya belakangan ini ada dua yang saling suka tuh cieee… Diki sama Mutia cintanya lagi bersemi-semi tuh......BhaHahay…….” ucap ku
“Dih.....Aliya so tau banget ya lu…emangnya gua pacaran apa ama Mutia kan gak tau” jawab Diki
“Diki, tadi perasaan gua gak bilang lu berdua pacaran ya, tapi tadi lu barusan yang nyebut sendiri jangan-jangan bener lagi lu berdua bukannya saling suka lagi, tapi udah jadian kali ya...tapi kalau seandainya kalian berdua emang pacaran gak napa-napa deh.....PJnya boleh kali tuh.....!!!” kata ku
“Cieee Diki sama Mutia....kayaknya bener tuh apa kata Aliya barusan” ujar Riko yang meledek Diki dan Mutia
“Udah ah ngapa lu jadi pada ngomongin begituan, ah gak penting tau mendingan sekarang kita pulang aja yuk…!!! Dari pada kita berempat kerjaannya main mulu nanti nilai ujian kita jelek lagi”sahut mutia
“Ia deh yuk kita pulang, oh ia, Aliya lu pulangnya gua anter ya dari pada lu naik angkutan umum” ucap Riko sambil menyuruh Aliya naik di motornya
“Ia Riko, nganterin gua pulang sekolah terus juga gak napa-napa…..Hahaha biar bensin lu abis, becanda kok gua” ujar ku
“Lah Aliya bisa banget, lu kira Riko tukang ojek” kata Diki
***

Inilah dia dimana saat-saat Ujian Nasional berlangsung hatiku mulai bergemuruh saat petugas membagikan soal suasana kelaspun mulai hening jauh dari kebisingan dalam hatiku ku sambil berdoa “Bismilahirrahmanirrahiim…...mudah-mudahan aku dapat mengerjakan soal Ujian Nasional ini dengan mudah dan mendapatkan nilai yang memuaskan” lalu barulah ku usapkan tangan ku wajah “Amiin……”
Barulah perlahan kuhitamkan hasil jawaban yang ku pilih di lembar jawaban, terus hingga aku selesai mengerjakan soal Ujian tersebut.
***

Ujian Nasional kini telah selesai dan sekarang adalah waktunya melepas ketegangan sambil menggu hari-hari di mana nanti hasilnya akan diumumkan. Kami berempat akan makan-makan di pizza hut.
Kami berempat pun memesan makanan. Aku jadi heran sama Riko kenapa ya sepertinya muka Riko kok terlihat tegang ya dan ia dari tadi ku perhatikan seperti ada yang akan ia sampaikan ke aku.
“Riko, lu tuh dari tadi kenapa yak kok kaya tegang gitu…kalau lo ada masalah cerita aja sama kita bertiga…!!!” tanya ku dengan heran
“Aliya, emangnya lu gak nyadar apa Riko kan suka ama lu semalem dia sms gua cerita katanya dia bingung gimana caranya nembak lu Al” ujar Diki sambil tertawa
“Beneran Dik gak salah denger nih gue” sahut Mutia yang penasaran
“Ehm…Aliya sebenernya yang di katakana Diki benar dan yang sejujurnya telah lama Al aku menyukaimu, kamu mau gak Al jadian sama ku?” ucapnya Riko dengan wajah tegang
“Ya Riko aku mau kok jadian sama kamu” sahutku sambil tersenyum
“Asyik dah yang hatinya lagi bersemi-semi nih…Cicuwwiittt….HahaHaha….” ujar Mutia
“Jiah……akhirnya Riko sama Aliya jadian juga, klo gua sama Mutia sih jadiannya udah lama” kata Diki
“Ah lo bedua nih gak pernah cerita” tutur Riko
“Tapi temen-temen kalian inget ya sahabatan kita tuh gak boleh hancur karna gara-gara cinta” ucap ku
“Tenang aja kok Al sampai kapanpun kita berempat tuh sahabat apa lagi gue ama lu udah sahabatan dari kita masih SMP” sahut Mutia
***

Hasil nilai sedang di bagikan. Sekarang aku begitu tegang ketika akan di bagikannya hasil nilai tersebut. Kini adalah giliran nama ku di sebut dan tepatnya aku mengambil hasil ujian “Aliya Rahmadina”, barulah aku maju ke depan dan mengambil hasilnya. Perlahan Kubuka amplop tersebut sambil membaca Bismillah, “Alhamdulillah ternyata aku lulus” ucap ku
Barulah waktunya nama Diki Disebut “Diki Setiawan” lalu dia maju dan ternyata ia lulus, “Mutia Qurrotu Nur’aini” begitu pula dengan Mutia ia juga lulus. Kini barulah giliran Riko “Ahmad Riko” dan akhirnya Riko pun juga lulus.
Kami berempat langsung berpelukan menahan tangis rasa senang yang mengharukan dan kami pun langsung berlari ke kebun untuk menggali botol tersebut saat-saat inilah yang membuat aku tidak bisa menahan air mata ku yang membuat ku haru.
“Gue seneng banget akhirnya kita berempat bisa lulus” kata Mutia
“Ya Mut gua juga seneng banget kita bisa seperti ini dan terus bersama” tutur ku
“Gimana kalau nanti kita jalan-jalan lagi” ucap Riko
“Setuju banget tuh gua, kita nonton bioskop…!!!” sahut Diki
***

Ketika di perjalanan ingin menonton bioskop, perasaanku sungguh tak enak jantungku berdebar ketika sedang di dalam mobil Diki yang mengendarai mobil tersebut, aku seperti punya firasat yang tak enak. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi kepada kami berempat, Tidakkk…!!! Aku yakin ini semua gak akan terjadi.
“Perasaan gua di dalam mobil ini kok gak enak banget ya” ucap ku dengan cemas
“Aku biasa aja kok Al di dalam mobil ini kaya nya tenang-tenang aja” sahut Riko
“Aliya, udah lah kita bawa santai aja dikit lagi juga udah mau sampai” ujar Mutia
“Bener tuh Mut” sahut Diki
Tak lama Setelah Diki berbicara tau-tau Mutia berteriak “Diki awas..!!! disitu ada jurang….!!, “Haaaahhhhh……….” teriak aku,Diki, dan Riko. Aku sungguh tak kuasa mendengar jerit teriak mereka
***

Perlahan ku buka mataku sedikit demi sedikit dan terlihat samar-samar ada Ibu di sampingku
“Aliya… kamu sudah sadar” itu suara ibu
“Ibu, Aliya ada di mana? Riko,Diki, dan Mutia juga ada dimana bu..? ucapku dengan kaget
“Aliya kamu sedang di rumah sakit, kamu yang sabar ya Riko,Diki dan Mutia sudah tiada” kata Ibu
Tangisku ku menetes tiada henti saat kau tinggalkan ku sendiri. Mengapa kau ambil tiga sahabatku? aku masih sungguh menyayanginya akan ku jaga semua kenangan kita berempat walau kau sudahlah tiada. Kemana semua janji mu dulu Riko,Diki, dan Mutia..?. Aku juga masih mencintaimu Riko mengapa kaupun harus pergi juga .Ingin rasanya kumemutar waktu kembali tuh habiskan waktu-waktu kebersamaan kita sahabat dan merajut janji-janji kita selamanya.

Sahabat Pilihan

Saat pertama kali aku mengenal Molly, ia langsung menjadi sahabatku. Kami menyukai hal yang sama, tertawa menikmati lelucon yang sama, dan bahkan sama-sama mencintai bunga matahari.
Seakan kami saling menemukan pada waktu yang tepat. Sebelumnya kami berdua bergabung dalam dua kelompok main yang berlainan yang tidak rukun atau tidak cocok. Kami sangat bergembira saling berkenalan.

Persahabatan kami tumbuh menjadi sangat erat. Keluarga kami pun menjadi bersahabat, dan semua orang tahu di mana ada Molly, di situ pulalh aku berada, dan sebaliknya. Di kelas lima kami tidak sekelas, tapi pada waktu istirahat, kami duduk bersama di kursi yang sudah ditentukan dan saling mengobrol. Para petugas kantin tidak menyukai ini. Kami selalu menghalangi jalan, bicara terlalu keras dan tidak menyantap makanan siang kami, tapi kami tidak peduli. Para guru tahu kami bersahabat, tapi kami juga menganggu. Mulut kami yang sembarangan bicara sering menyusahkan kami, dan kami diperingatkan tak akan pernah didudukkan sekelas lagi kalau terus seperti ini.

Pada musim panas itu, Molly dan abangnya sering bermain di rumahku. Ibuku mengurus mereka pada waktu ibu mereka bekerja. Kami berenag, bermain di luar dan berlatih bermain suling. Kami membeli liontin persahabatan dan mengenakannya sesering mungkin.

Musim panas berlalu dengan cepat, dan sekolahpun dimulai. Sebagaimana yang telah diperingatkan para guru, kami tidak duduk sekelas. Kami masih suka ngobrol di telepon, saling berkunjung, bernyanyi dalam paduan suara, dan berlatih meniup suling bersama dalam band. Tak ada yang bisa memisahkan persahabatan kami.

Kelas tujuh dimulai, dan lagi-lagi kami tidak sekelas dan tidak bisa duduk berdekatan saat beristirahat makan siang. Seakan kami berdua sedang diuji. Kami sama-sama mempunyai teman baru. Molly mulai sering bermain bersama kelompok bermain yang baru dan ia semakin populer.

Kami jarang melewatkan waktu bersama, dan juga semakin jarang ngobrol di telepon. Di sekolah aku berusaha berbicara dengannya, tapi ia tak acuh. Kalaupun kami punya sedikit waktu untuk bicara, salah seorang temannya yang populer itu akan muncul dan Molly akan bersamanya, meninggalkan aku sendiri, sungguh menyakitkan.

Aku sangat bingung. Aku yakin ia tak menyadari pada waktu itu betapa sakit hatiku, tapi bagaimana bisa aku menceritakan hal itu kepadanya kalau ia tak mau mendengarkan? Aku mulai bermain bersama teman-teman baruku, tapi keadaannya tidak sama. Aku berkenalan dengan Erin, yang juga teman Molly. Ia dan Molly pernah bersahabat, dan kemudian Molly memperlakukannya seperti sekarang ia memperlakukan diriku. Kami memutuskan untuk bicara kepadanya.

Percakapan di telepon itu bukan hal yang mudah. Membicarakan betapa hatiku sakit sangatlah sulit. Aku sangat khwatir menyakiti perasaannya dan membuatnya marah. Tapi sungguh mengherankan - saat kami berdua ngobrol di telepon, kami berteman lagi. Ia kembali menjadi Molly yang sama.

Kujelaskan bagaimana perasaanku, ia juga menjelaskan perasaannya. Baru aku sadarai bahwa aku bukan satu-satunya yang terluka. Ia juga kesepian tanpa kehadiranku sebagai teman ngobrol. Apa yang harus dilakukannya? Jangan mempunyai teman baru? Tak pernah hal itu terpikirkan olehku, tapi ia merasa ditinggalkan olehku dan teman-teman baruku. Ternyata akupun pernah mengabaikannya secara tak sadar. Tampaknya kami ngobrol lama sekali di telepon, karena setelah obrolan kami selesai, aku telah menghabiskan banyak tisu untuk menghapus air mataku. Kami berdua memutuskan tetap bermain bersama teman-teman baru kami masing-masing, tapi kami tak akan pernah melupakan keceriaan dan persahabatan kami.

Aku takkan pernah melupakannya. Molly telah mengajariku sesuatu yang penting. Ia mengajariku bahwa keadaan bisa berubah, orang bisa berubah, tapi itu tidak berarti kita melupakan masa lalu atau berusaha menutup-nutupinya.


PERPISAHAN

Setelah lulus UN Dina, vine dan karlina janji mau bermain kesawah dimana dekat dengan rumah karlina,
mereka ingin foto-foto bersama,
kenalkan vine sahabat Dina yang ga modal sama kaya karlina ga modal juga hhahaa,
itu dia yang Dina suka dari mereka berdua unik dan aneh.

***
tiba–tiba hp berdering dan di angkat dina dan ternyata vine menelpon menanyakan jadi atau tidak nya dina kerumah karlina
“din jadi gak”ajaknya dengan nada heran
“jadi donnk”jawab dina
“ya sudah lu tunggu disana ya”dia menyuruh dan ga ngasih tau dimana tempatnya(aneh ga?)
“ok” ok-ok aj padahal ga tau paling tempat biasa
sesampai tempat mereka bertemu dina menunggu dia sebentar sekitar 5 menit dan akhirnya dia datang
“din sorry ya nunggu”dengan muka aneh nya ahhaha
“ga papa”jawab dina dengan polos
“yuk lah ntar kesiangan”dengan masih muka aneh

***
sesaat sampai dirumah karlina dina dengan vine langsung disuruh masuk disana sudah ada makanan yang sangat Lezat,hmm Yami-yami ^_^ ,asik nih.
“tumben lu modal kar ga biasanya mau gratisan hahahha”ledek dina
“hahahaha”vine ikut tertawa
“jangan ketawa vi sama aja lu”ledeku kedia
“ia nih lagi mau modal aj hahaha” karlina membanggakan kemodalan nya

***
saat mereka makan mereka sekalian bercanda tawa,
ini lah yang membuat dina hangat didekat mereka berdua,
sahabat memang selalu membuat kita tenang dalam keramaian atau kesepian.
setelah Makan selsaikami langsung berangkat kesawah.